OBITUARY

(i)
Mereka yang dipanggil kini, seberapa jauh harus berjalan sebelum tiba pada keabadian?
Kita yang tersisa dan menunggu, sia-sia bertanya tentang waktu.
Hidup dan maut saling bersisian, dalam kerahasiaan.

(ii)
Pada akhirnya kitapun harus menyerah.”Kullu nafsin dza iqatul maut”

(Kau kah itu Izrail, yang datang berkunjung tanpa mengetuk, tanpa salam yang terucap? Sesungguhnya kau datang membawa pesan cinta dari Sang Khalik, pemilik bumi dan langit, penguasa atas hidup setiap mahluk. KepadaNya aku berserah diri)

PUISI DIKARA

IMG_9752

Anak laki-lakiku, Dikara Kahlil Satriani, siswa kelas 5 Sekolah Dasar di Makassar, mendapat tugas dari gurunya membuat puisi tentang ibu dan ayah. Dia menuliskannya begini :

Ibu & Ayah

Ibu,
Terima kasih untuk semuanya
Engkau telah menjadi bulan untukku
Tapi walaupun engkau selalu berubah-ubah
Engkau selalu ada

Ayah,
Terima kasih untuk nasehatnya
Kehebatanmu telah menjadikanmu sang kejora
Yang selalu dipuji karena cahayanya

Ayah ibu,
Kalian adalah air dan tanah
Yang merupakan sumber kehidupan
Tapi semua memiliki batas
Aku berharap kalian bisa bersamaku selamanya

******

Saya membacanya berkali-kali, dan terpesona menemukan pemahamannya tentang kesementaraan hidup manusia pada bait ketiga. Dia sadar, kami takkan selamanya berada bersamanya.

MEKAH

CATATAN PINGGIR GOENAWAN MOHAMAD

Mekah

— Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah

Betapa berubahnya Mekah. Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.

Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.”

Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Juga tempat tinggal. Garasenya bisa menampung 1000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.

Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.

Betapa berubahnya Mekah. Atau jangan-jangan malah berakhir. “It is the end of Mekkah“, kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian. Nada suaranya murung seperti juga suara Sami Angawy.

Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”

Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin naik; kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru melihat di situlah perkaranya. Ia menyaksikan “lapisan-lapisan sejarah” Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parkir.

Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya yang didesain dengan gaya tradisional Hijaz. Ketika Abraj al Bait dibangun seperti Big Ben yang digembrotkan (“meniru seperti monyet”, kata Angawy) ia merasa kalah total. Ia lebih suka tinggal di Kairo.

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.

Wahabisme, kata Angawy, adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu. Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah — dan sebab itu harus disembah.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum.

Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri “Komite Hijaz” di kediaman K. H. Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.

Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu. Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.

Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams. Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”; mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan Abraj al Bait bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam London & Las Vegas. Apa yang terjadi?

Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan (menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik “kemoderenan”, (menidakkan masa depan) adalah sikap yang anti-Waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya hanya menjadikan Waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah.

Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok yang pedih dan yang dahsyat di masa silam?

Mungkin piknik instan ke kemewahan.

Diposkan pada November 9, 2012

BANDANEIRA : FORGOTTEN PARADISE

ScubaDiveBandaIsland

Sejak abad pertama Masehi, kepulauan Banda telah menjadi produsen tunggal rempah-rempah seperti pala dan fuli. Pulau Banda dikunjungi oleh banyak kapal dari Cina, India, dan Arab. Rempah-rempah ini sangat berharga dan dijual dengan keuntungan yang sangat besar di pasar dunia saat itu. Masyarakat Banda sangat bertumpu pada sumber daya alam rempah rempah hingga berubah setelah Belanda memonopoli perdagangan rempah-rempah dunia.

Meskipun memiliki reputasi besar, Pulau Banda hanya sekumpulan pulau kecil yang terdiri dari tiga pulau besar dan tujuh pulau yang lebih kecil. Kepulauan ini bertengger di tepi jurang bawah laut terdalam Indonesia yaitu Laut Banda. Perairan di sini dapat mencapai kedalaman lebih dari 6.500 meter. Dua pulau terbesar yaitu Banda Besar dan Naira, ditumbuhi banyak pohon pala. Pulau ketiga, yaitu Gunung Api atau ‘puncak api’ merupakan gunung berapi aktif. Di perairan sekitar pulau-pulau ini Anda akan menemukan beberapa taman bawah laut paling spektakuler. Anda dapat menikmati keindahan karang dan ikan berwarna-warni, berenang di air sebening kristal, menyelam, snorkeling, atau bahkan sekadar tamasya saja sudah cukup memuaskan hasrat berwisata bahari Anda.

13793529711099921243

Terletak 132 km tenggara Ambon, kepulauan ini merupakan daerah terpencil namun sangat indah. Dengan terumbu karang berwarna warni, perairan laut hangat, dan kehidupan laut yang eksotis. Banda adalah surga bagi para penyelam dari seluruh dunia untuk menjelajahi sebuah tempat menyelam yang paling terpencil dan sangat alami di dunia.

Saat ini, Banda telah menyihir para penyelam, pelaut, dan kapal pesiar dari seluruh dunia dengan keindahan alamnya. Baik di atas maupun di bawah laut, keindahan Banda dapat disejajarkan dengan keindahan Raja Ampat di Papua, sebuah surga wisata bahari lain di Indonesia Timur.

banda-naira

Kepulauan Banda merupakan salah satu tujuan wisata Indonesia yang paling populer bagi para penyelam. Baik penyelam ahli maupun pemula. Semua dapat menyelam dari laguna dangkal di antara Bandaneira dan Gunung Api hingga ke dinding vertikal di Pulau Hatta.

Kemanapun Anda pergi berkeliling di sini, maka akan menemukan pemandangan tropis yang menakjubkan, sejarah yang luar biasa, penduduk yang ramah, dan beragam terumbu karang yang masih alami.

Scuba diving masih relatif baru di sini, tapi penyelam yang sudah ahli tidak harus bekerja keras untuk menemukan keindahannya. Bawah laut sekitar Ambon dan pulau terdekat Saparua memiliki beberapa tempat menyelam dengan reputasi mendunia. Ketika Anda menjelajahi permukaan bawah laut maka Anda akan melihat segalanya mulai dari hiu, kura-kura besar, ikan napoleon wrasse, ikan kerapu raksasa, tuna, sinar mobula, cepluk redtooth, berbagai spesies ikan paus, lumba-lumba pemintal, dan kerabat dekat lobster besar, hingga ikan karang yang jinak atau ikan endemik lepu ambon.

travelounge-banda-neira

Datanglah ke Pulau Banda dan kunjungi oleh Anda rahasia yang tersimpan di Indonesia Timur ini. Meski penerbangan kesini tidaklah sering namun penantian Anda akan terbayar dengan keindahan surga tropis yang ideal ini.

banda-islands

dive-bluemotion_279721

(Sumber : Wonderful Indonesia, Indonesia Official Tourism Website)

BAKTI SOSIAL RAMADHAN IOF – LCM 11 JULI 2015

 

Line Up | Rujab Gubernur Sulsel

 

Bukit Baruga – Samata

 

Tepi Sungai Jeneberang

Just take a breath

Mobil Paketum IOF terpaksa ditarik

 

Mr. Governor dengan kanvas putihnya

 

Mobil Paketum IOF Sulsel yg ditarik

Echa LCM

 

Danlantamal Makassar

 

Gubernur Sulsel

 

Danlantamal Makassar

 

Wagub Sulsel

 

Foto Bersama Muspida Prov Sdulael

 

Peserta Baksos

[wpvideo xJIhtHeU]

TERGUSURNYA JEJAK SEJARAH MAKKAH

Tanggal 19 Agustus 2011, Raja Abdullah bin Abdul Aziz meletakkan batu pertama menandai renovasi besar-besaran Kompleks Masjidil Haram yang ia gagas. Proyek perluasan ini dilakukan pada area seluas 400 ribu meter persegi. Ia menyebutnya King Abdullah Expansion.

Sang raja berkeinginan Masjidil Haram lebih longgar. Dengan demikian, masjid dapat menampung tambahan 1,2 juta jamaah. Pemerintah Arab Saudi mengalokasikan dana 21 miliar dolar AS untuk membiayai proyek besar tersebut.

Rencana pengembangan kawasan Masjid Al Haram, Makkah

Semua ditangani dengan menggunakan sistem mekanik dan elektrik canggih. Sejumlah jembatan dibangun menghubungkan masjid dengan tempat sai, yaitu Safa dan Marwah. Dibuat pula sistem pengelolaan sampah serta pemantauan keamanan modern.

Pembangunan Makkah Royal Clock Tower atau jam menara mengiringi perluasan Masjidil Haram. Ini menjadi menara paling tinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab. Jam raksasa ini merupakan bagian dari bangunan Makkah Clock Tower Hotel.

Tinggi bangunan mencapai 601 meter dengan 76 tingkat serta 858 kamar. Letaknya menghadap ke Masjidil Haram. Pengeras suara di menara jam menjadi pelengkap. Gunanya, untuk mengumandangkan azan. Dari sini, suara azan bisa terdengar sampai jarak tujuh km.

Pada 2020 diperkirakan seluruh proyek perluasan di Makkah dan Masjidil Haram tuntas. Pada 14 Agustus 2012 Arab Saudi juga menetapkan rencana modernisasi sistem transportasi di Makkah. Di dalamnya, termasuk jaringan bus dan metro.

Nilai proyek itu menembus angka 16,5 miliar dolar AS. Jalur metro dengan panjang 182 km dibangun di seluruh kota dengan 88 stasiun. Konstruksi proyek besar ini akan dibangun dalam waktu 10 tahun. Setahun sebelumnya, terungkap pula rencana besar lainnya.

Dalam kurun enam tahun, Pemerintah Kota Makkah bertekad membuat jalan-jalan baru di Makkah. Proyek jangka panjang lainnya di sekitar Masjidil Haram adalah pendirian hotel, pusat perbelanjaan, dan kafe. Di wilayah suburban disediakan kompleks perumahan dan taman.

Fasilitas tersebut diperuntukkan bagi warga yang direlokasi dari pusat kota. Di sisi lain, ada suara kritis mengemuka. “Hal yang kami inginkan adalah pengembangan Makkah, bukan malah mengubahnya,” ujar Sami Angawi, pendiri Pusat Penelitian Haji dan pakar Makkah.

Ketidaknyamanan ini membuat Angawi yang asli Makkah tak lagi menginjakkan kaki di kota kelahirannya itu sejak 2009. Ia tak senang dengan cara Makkah bertransformasi. Menurutnya, pembangunan kerap menggusur tempat-tempat bersejarah.

“Saya mencintai Makkah dan tak tahan melihat Kota Nabi ini dihancurkan,” kata Angawi. Ia tak keberatan dengan perluasan kapasitas Masjidil Haram. Apalagi, perluasan itu demi kepentingan jamaah. Ia mengaku tak merasa sreg dengan keberadaan jam menara.

Dalam pandangan dia, jam menara tak menunjukkan rasa hormat pada Ka’bah. “Makkah adalah jantung dunia Islam. Apa yang pemerintah kami lakukan adalah mengubah jantung itu dari yang semula bersifat natural menjadi mekanik,” kata Angawi yang kini tinggal di Jeddah.

Jam menara yang menjulang hingga 610 meter sejak 2011 berdiri di bekas benteng masa pemerintahan Turki Usmani. Benteng Ajyad itu dibangun pada 1781 untuk mengadang para bandit. Pada 2002 benteng digusur, hilang tak berbekas.

Angawi menceritakan, rumah sahabat Nabi, Abu Bakar, sekarang menjadi tempat Hotel Hilton berdiri. Sedangkan, rumah cucu Nabi diratakan untuk istana raja. “Mereka mengubah tempat suci menjadi sebuah mesin,” kata Angawi.

Menurut dia, Makkah kini merupakan kota tanpa identitas, budaya, pusaka, dan lingkungan alami. Angawi mengatakan, tak ada tempat di dunia selain Makkah yang memulai pengembangan dengan membuldozer bangunan terlebih dahulu.

Harusnya ada rancangan pembangunan baru membuldozer bangunan. Jika semuanya berhenti sekarang, belum terlalu telat. “Kalau tidak, kita akan menanggung risiko kehilangan kesakralan Makkah untuk selamanya,” kata Angawi.

Wafa Sbbet (50 tahun), Muslim asal Sydney, Australia, yang berhaji pada 2011 merasakan perasaan yang sama dengan Angawi. Desain Makkah kini tak lagi berciri Arab tradisional. Apa yang mereka buat, ujar dia, seperti bangunan-bangunan di Australia.

“Ini membuat saya tak merasa berada di Arab atau Makkah,” kata Sbbet. Direktur Islamic Heritage Research Foundation Irfan Alawi pun setali tiga uang. Menurut dia, Arab Saudi berusaha menghancurkan apa pun yang ada hubungan dengan Nabi Muhammad.

Mereka membuldozer rumah istri Rasulullah, Khadijah, cucu, dan sahabatnya. “Kini, mereka merangsek ke tempat lahir Nabi. Untuk apa? Hotel bintang tujuh,” katanya, seperti dikutip laman berita Guardian, 14 Oktober 2013.

Di kaki Pegunungan Khandama, sebelah barat Masjidil Haram, ada sebuah bangunan putih berdiri. Ini perpustakaan kecil untuk menandai tempat rumah kelahiran Nabi. Dikenal dengan nama Rumah Maulid. Bangunan tersebut terancam rencana pengembangan.

Di lokasi itu bakal dibangun tempat parkir mobil bawah tanah serta jalur metro. Dua bangunan itu diperlukan guna mengatasi membeludaknya pengunjung Makkah. Pada 2025, target kunjungan mencapai 17 juta orang.

Di seberang jalan perpustakaan, rumah istri Muhammad, Khadijah, sudah bersalin wajah. Kini, berwujud sebuah blok berisi 1.400 unit toilet umum. Sumur berusia 1.400 tahun, Bir Tuwa, tempat Nabi menghabiskan malam, pun berada dalam bahaya.

Lokasi di sekitarnya telah berdiri sejumlah hotel. Tampaknya, kata Alawi, sumur ini akan bernasib sama. Di dalam Masjidil Haram, sebelumnya ada kubah dan tiang batu berusia 500 tahun dari masa Dinasti Abbasiyah. Tapi, sekarang sudah dihancurkan tak berbekas.

Tiang batu berisi pahatan puisi yang mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad serta situs-situs haji. Di sebelah utara Masjidil Haram, tepatnya area Shalmiya, lahan 400 ribu meter persegi dipakai untuk memperluas tempat shalat.

Tempat baru ini bisa menampung 1,2 juta jamaah per tahun. Proyek ini ditebus dengan harga mahal. Shalmiya, bagian paling bersejarah di kota tua Makkah, lenyap. Semua telah rata dengan tanah. Warga yang hidup dari satu generasi ke generasi lain di Shalmiya direlokasi.

Ia menyatakan, hotel-hotel mewah bakal berdiri di sejumlah proyek dekat Masjidil Haram. Tak hanya jam menara, tetapi juga proyek lain, seperti Jabal Khandama. “Ini kisah akhir Makkah. Lalu untuk apa?” tanya Alawi.

Sebagian besar hotel yang sudah berdiri dekat Masjidil Haram hanya terisi setengahnya. Mal-mal juga kosong. Sebab, sewa ruangan di sana terlalu mahal bagi bekas pedagang di kios Pasar Seng yang sudah digusur.

Namun, sejak awal Raja Abdullah menegaskan, perluasan Masjidil Haram merupakan kewajiban agama. Perluasan perlu untuk menampung jamaah haji yang membeludak. “Kami telah meletakkan batu pertama renovasi Masjidil Haram dan proyek lainnya.”

Langkah sang raja memperoleh dukungan ulama senior Arab Saudi Syekh Saad bin Nasser al-Shathri. Dalam pemberitaan Guardian, 4 Oktober 2013, ia meminta Muslim dunia mendukung proyek perluasan Masjidil Haram yang sedang berjalan.

Dari Republika Online, 26 Februari 2014

DOA RABIAH DARI BASRAH

image

 

Wahai Tuhanku, apa pun jua bahagian dari dunia kini yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkanlah itu pada musuh-musuhMU. Dan apa pun juga bahagian dari dunia akan tiba yang akan Kau anugerahkan padaku, anugerahkanlah itu pada sahabat-sahabatMu. Bagiku, Dikau sudah cukup.

Wahai Tuhanku, urusanku dan gairahku di dunia kini dan dunia akan tiba adalah semata mengingat Dikau di atas segalanya. Dari kesegalaan di semesta ini, pilihanku adalah berangkat menemui-Mu. Inilah yang akan kuucapkan kelak: “Dikau segala-galanya.” Wahai Tuhanku, tanda mata paling permata dalam hatiku ialah harapanku padaMu. Dan kata paling gula di lidahku adalah pujian padaMu. Dan waktu paling kurindu adalah jam ketika aku bertemu dengan Kau.

Wahai Tuhanku, aku tak dapat menahankan hidup duniawi ini tanpa mengingatMu. Dan bagaimana mungkin daku hidup di dunia akan tiba tanpa menatap wajahMu?

Wahai Tuhanku, inilah keluhanku. Daku ini orang asing di kerajaanMu dan mati kesepian di tengah-tengah penyembahMu!

Wahai Tuhanku, jangan jadikan daku kelewang di tangan penakluk perkasa. Jelmakan daku jadi tongkat kecil penunjuk jalan si orang buta.

Wahai Tuhanku, jangan jadikan daku pohon besar yang kelak jadi tombak dan gada peperangan. Jelmakan daku jadi batang kayu rimbun di tepi jalan tempat musafir berteduh memijit kakinya yang lelah.

Wahai Tuhanku, sesudah daku mati masukkanlah daku ke dalam neraka. Dan jadikan jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka sehingga tidak ada orang lain dapat dimasukkan ke sana.

Wahai Tuhanku, bilamana daku menyembahMu karena takut neraka, jadikan neraka kediamanku. Dan bilamana daku menyembahMu karena gairah nikmat di sorga, maka tutuplah pintu sorga selamanya bagiku. Tetapi apabila daku menyembahMu demi Dikau semata, maka jangan larang daku menatap KeindahanMu yang abadi.

 

Catatan Tentang Rabiah Dari Basrah

Rabiah Al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang dikenal karena kesucian dan dan kecintaannya terhadap Allah. Rabiah tidak tertarik kepada kehidupan duniawi dan mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah.

Diperkirakan lahir antara tahun 713 – 717 Masehi, atau 95 – 99 Hijriah di kota Basrah, Irak dan meninggal sekitar tahun 801 Masehi / 185 Hijriah. Nama lengkapnya adalah Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah. Rabiah hidup pada dinasti Umayyah dan dijuluki sebagai The Mother of the Grand Master atau Ibu Para Sufi Besar. Ia juga menjadi panutan para ahli sufi lain seperti Ibnu al-Faridh dan Dhun Nun Al-misri. Kezuhudan Rabi’ah juga dikenal hingga ke Eropa. Hal ini membuat banyak cendikiawan Eropa meneliti pemikiran Rabi’ah dan menulis riwayat hidupnya, seperti Margareth Smith, Masignon, dan Nicholoson.

Doa Rabiah Dari Basrah adalah salah satu karya masterpiece-nya.

sumber : wikipanion

ORA BEACH RESORT – SAWAI

image

Ada yang menyebutnya ‘little maldives’, mungkin ingin membandingkannya dengan negara atol di Samudera India itu. Tapi ini bukan di negara lain. Letaknya di utara Pulau Seram Maluku, dan butuh berjam-jam untuk bisa sampai ke sana dari Kota Ambon dengan menggunakan angkutan darat dan speedboat. Secara pribadi saya punya kaitan emosional dengan lokasi wisata ini. Teman saya, Ir. Arfan Doktrin adalah arsitek yang mendisain resort ini, dan saya berkesempatan ikut dalam survey awal di akhir tahun 90an. Jadilah deretan cottage yang cantik di lepas pantai Desa Sawai, Seram Utara. Samasekali tak menduga, resort ini di kemudian hari banyak menarik perhatian wisatawan lokal maupun asing. Di belakang resort ini adalah deretan bukit cadas yang melindungi Taman Nasional Manusela. Anda dapat mencapai lokasi taman nasional melalui tangga kayu dan semacam gondola setinggi 50an meter yang disediakan pemilik resort. Satu hal yang perlu dipahami, destinasi wisata ini benar-benar terpencil dan tanpa sambungan telepon seluler maupun siaran televisi, alias tak ada kesempatan bagi anda untuk online dan memeriksa status fesbuk dan twitter, atau nonton acara gossip artis di tv nasional.

13936424637_ab94ebeffa_b pantai-ora-ambon-3 seram_-_095 20141228_144413


sumber foto : google

CITA-CITA DAN MIMPI

image

Seperti apa perjalanan cita-citamu? Kalau sering melihat polisi, yang gagah dengan seragam dan pistol di pinggang, seorang anak akan serta-merta bercita-cita menjadi polisi. Begitu juga saat melihat dokter, pilot, insinyur, dan profesi-profesi ‘biasa’ lainnya. Cita-cita seorang anak akan berubah seiring berjalannya waktu dan berkembangnya wawasan. Anak pertama saya, laki-laki, saat berusia 5 tahun juga ingin menjadi polisi. Kebetulan karena tetangga saya seorang polisi yang setiap hari melintas di depan rumah dan tersenyum ramah kalau mendapati anak saya sedang bermain di halaman. Menginjak usia 6 tahun, cita-citanya berubah. “Saya ingin menjadi professor peneliti hewan”, begitu katanya kalau ditanyakan tentang cita-cita. Mungkin karena sering menonton Animal Planet dan semua acara televisi tentang hewan. Dia bahkan bisa menjelaskan dengan baik perbedaan keledai dan kuda, juga sedikit memahami proses metamorfosa, dan hafal semua jenis dynosaurus. Cita-cita itu kemudian berubah lagi saat melihat saya mengutak-atik gambar rumah tinggal di laptop. “Saya ingin seperti papa, menjadi arsitek dan membangun gedung-gedung”. Saya khawatir kalau dia ketemu Nazaruddin, atau Anggodo dan Anggoro. Bagaimana kalau dia terkesan pada pribadi mereka? Bah, apa dia akan bilang “papa, saya mau jadi koruptor seperti mereka dan lari ke Singapura”? Naudzubillahimindzalik.

Apakah profesi yang anda geluti saat ini sesuai cita-citamu? Dulu saat di sekolah menengah, saya pernah bercita-cita ‘menjadi seperti Carlos’, saking seringnya membaca berita tentang ‘perjuangan’ Carlos Sanchez Ramirez melawan kapitalisme. Buat saya, Carlos dan ‘rekan-rekan seperjuangan’ adalah orang-orang hebat. Ada Tentara Merah di Jepang, Brigade Merah di Italy, Baader Meinhoff di Jerman. Betapa hebatnya mereka bisa melawan kemapanan. Begitu jalan pikiran seorang anak tanggung. Syukur alhamdulillah cita-cita konyol itu tidak saya teruskan, jadi tidak perlu berurusan dengan Densus 88.

Memasuki tahun terakhir sekolah menengah, buat saya profesi terbaik adalah wartawan : bisa bertemu dan berbicara dengan orang-orang penting, dan tentu saja bisa mengungkap kebenaran dari sebuah peristiwa. Di atas semua itu, wartawan buat saya juga seorang petualang dalam pengertian yang harfiah, bisa pergi ke negeri-negeri yang asing, kadang menantang bahaya. Profesi yang sungguh menarik hati. Cita-cita ini membawa saya masuk ke jurusan komunikasi/publisistik di perguruan tinggi. Setahun lamanya di sana, dan tiba-tiba saja bisa berubah haluan tanpa pertimbangan apapun. Hidup kadang punya rencana sendiri yang berbeda dari cita-cita yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Mungkin ini yang disebut ‘garis tangan’.

Jadi, apakah yang sudah anda capai hari ini merupakan bagian dari cita-citamu? Bisa jadi melenceng jauh dari apa yang sudah dicita-citakan. Tak masalah. Setidaknya anda sudah punya cita-cita dan berupaya untuk meraihnya. Upaya untuk meraih cita-cita itulah yang membedakan seseorang dari lainnya. Sebab semua orang tentu punya cita-cita. Hampir mustahil seseorang tak pernah bercita-cita. Tapi cita-cita tanpa upaya, mungkin lebih tepat disebut mimpi. 

Makassar, 13 Juni 2011 aftermidnightnote