PATRICIA PACCININI DAN MAHLUK SUPRANATURAL

Patricia Paccinini

Patricia Paccinini, seniman kontemporer asal Australia, bekerja dengan berbagai media : lukisan, video, suara, digital printing, instalasi dan patung. Karya-karyanya, terutama seni patung, terlihat sangat nyata seolah mahluk dongeng atau mitos yang hadir dalam kehidupan manusia.

Kemarin tanpa sengaja saya menemukan salah satu foto karya patung Paccinini yang mampir di wall saya dengan caption yang bikin merinding : “ini akibatnya kalau sering selingkuh”. Masih ada keterangan lanjutan, seolah mahluk pada foto itu nyata dan kejadiannya di negara tetangga. Tidak lupa pada kolom komentar dipenuhi seruan “subhanallah, masya allah…..!!!!”.

Makin lama makin banyak saja orang-orang bodoh yang dengan mudah dikelabui dengan berita-berita palsu. Sepertinya semua yang dibumbui dalil agama akan dengan mudah ditelan, tanpa dicerna. Subhanallah, masya allah, astaghfirullah………😉

Benar kata Ibnu Rushd :
“Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama”.

 

Tirtayasa, 14 September 2017

EMILY RAE

Kadang kalau perhatikan gaya anak bungsu saya yang perempuan, jadi ingat masa kuliah dulu. Celana jins ketat, yang untuk dipasangkan di kakipun perlu bantuan kantong kresek saking sempitnya, dan sneaker, dulu kami menyebutnya “kets”, mungkin dari merek “keds”, salah satu merek mahal saat ini, ditambah kaos oblong. Bedanya, dulu celana jins saya hanya ada dua, dipakai bergantian sepanjang tahun sampai sobek dan bulukan. Soal sepatu juga, punya saya hanya ada sepasang dan ndak pernah dicuci. Kalaupun sepatunya bau, itu sepenuhnya urusan yang punya hidung. Siapa yang suruh dekat-dekat ke saya. Kalau kaos oblong masih agak mendingan, ada 3-4 lembar yang bisa dipakai bergantian. Oh ya, semua oblong saya berwarna hitam, lengkap dengan hiasan ornamen heavy metal. Itu sebabnya setiap hari kostum saya ke kampus kelihatannya sama. Harap maklum ya.

Nah, beda yang paling menyolok itu anak saya ke mana-mana harum, entah parfum apa yang sering disemprotkan ibunya ke busana yang dia pakai. Kalau saya jaman dulu, pake tawas saja sudah cukup 🤪🤪🤪🤪🤪

 

Karet Tengsin 27 Februari 2018

KEI ISLAND, HIDDEN PARADISE

Kolonial Belanda menyebutnya Kai, gugusan kepulauan di bagian tenggara Provinsi Maluku. Kepulauan ini sebenarnya adalah pulau-pulau koral yang muncul ke permukaan laut jutaan tahun lalu, terpisah oleh laut dalam dari lempeng Benua Asia maupun Australia.

Tak ada tradisi tulisan dalam budaya di Kepulauan Kei, kecuali hikayat lisan dan hukum adat setempat yang sedikit menjelaskan tentang asal-usul penduduk kepulauan ini. Orang Kei meyakini leluhur mereka datang dari Bali ribuan tahun lalu dalam dua perahu besar yang dinakhodai oleh dua orang bangsawan Bali. Dalam bahasa setempat, hukum adat itu disebut Larvul Ngabal, Darah Merah dan Tombak Bali. Bisa jadi ikatan asal usul ini juga yang kemudian menjadi salah satu penyebab timbulnya ide Bali🌺Kei Archipelago Festival, festival tahunan setiap bulan Oktober yang dimulai dari Bali dan berakhir di Pulau Kei.

Orang yang pernah berkunjung ke sana menyebutnya sebagai hidden paradise, surga tersembunyi yang menyempil hampir di ujung timur Indonesia. Pantai-pantai berpasir putih dan halus yang memanjang sejauh mata memandang, gugusan pulau-pulau koral dengan air laut sebening kaca, bisa membuatmu betah berlama-lama berenang dan merendam tubuh di sana. Di Pulau Bair misalnya, kita seolah berenang di kolam raksasa tengah laut, dengan dasar kolam berpasir putih yang terlihat jelas.

Hanya butuh satu setengah jam dengan pesawat udara dari ibukota Provinsi Maluku, Ambon. Garuda, Wings, Sriwijaya setiap hari melayani rute Ambon – Langgur, lapangan terbang kecil di utara Pulau Kei.

 

sumber foto : IG Jejak Kaki Kei Island dan TripTrus

Ngilngof, 9 Oktober 2018

Lanjutkan membaca KEI ISLAND, HIDDEN PARADISE

M A T I

 

Semua orang akan mati, dengan cara yg berbeda-beda. Kalau tidak hari ini, mungkin besok atau tahun depan, atau lima tahun lagi. Wallahualam. Mati di atas ranjang rumah sakit, mati dalam kecelakaan, atau mungkin lagi bersama selingkuhan. Pokoknya, pasti akan mati. Kullu nafsin dzaaikatul maut. Kematian itu pasti bagi setiap yang bernyawa. Itu menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Allah. Tak sebiji-zarahpun kekuasaan itu diberikan kepada seorang manusia.

Sebenarnya yang lebih penting adalah bagaimana menjalani hidup sebelum datangnya mati. William Wallace Braveheart, tokoh utama di dalam film Braveheart yang diperankan Mel Gibson bilang, “every man dies, not every man really lives”. Sekedar hidup dan bernapas, atau benar-benar hidup dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Kau bebas memilih salah satunya. Itu sepenuhnya otoritas pribadimu.

 

karet tengsin, 27 oktober 2017

PEMUDA

USA di pertengahan 70an, lagi marak-maraknya demonstrasi anti kapitalisme oleh anak-anak muda, sebagian besar mahasiswa yang terpukau paham sosialisme.

 

Satu hari di New York, seorang pemimpin demonstran berulang tahun. Di tengah aksi demontrasi, rekan-rekan seperjuangan menghadiahinya kue tart, bukan untuk dipotong dan dibagikan sebagaimana layaknya sebuah kue ulang tahun. Kue itu dilemparkan ke wajahnya. Dan itulah hari di mana sang pemimpin mengakhiri hari-harinya di jalanan, menyerahkan sepenuhnya tongkat estafet perjuangan kepada rekan-rekannya yang lebih muda. Hari itu dia tepat berulang tahun ke 30, batas usia di mana seseorang dianggap tak lagi layak disebut pemuda, tak lagi layak memimpin gerakan perlawanan di jalanan.

 

Tapi itu dulu, di Amerika pula. Beda zaman beda gaya, lain ladang lain kodoknya. Di negeri ini, seseorang yang sudah uzurpun masih menyebut diri pemuda, lengkap dengan jabatan ketua umum organisasi pemuda anu. Andai Dr. Soetomo masih hidup, akankah dia masih memimpin organisasi pemuda Boedi Oetomo?

 

 

Karet Tengsin, 29 Oktober 2017

ANAK KOMUNIS

Di sebuah kelas di sekolah dasar, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya.

Guru : “Siapa yang membangun Indonesia?”

Murid-murid serentak : “Orde Baru!!”

Guru : “Siapa penjaga persatuan nasional?”

Murid-mirid serentak : “Orde Baru!!”

Guru : “Siapa yang membangun sekolah-sekolah, termasuk sekolah kita?”

Murid-murid serentak dan semakin keras : “Orde Baru!!”

Tampaknya semua murid kompak menjawab dengan lantang. Tapi begitu diperhatikan lebih cermat, ternyata tidak semua murid meneriakkan Orde Baru. Ada seorang murid yang sejak tadi diam saja.

Guru mendatanginya. “Kenapa kamu tidak menjawab seperti teman-temanmu?”
“Sebab saya PKI”, jawab si murid.
“Kenapa kamu PKI?”
“Sebab ayah saya PKI, dan ibu saya juga PKI”, jawab si murid.

Guru itu merasa simpati kepada si murid. Dengan lembut ia berkata “Walaupun orangtuamu keduanya PKI, tapi kamu kan tidak harus menjadi PKI. Kalau ayah dan ibumu pencuri, masak kamu juga mau jadi pencuri”, kata guru.

Si murid menjawab kalem “Kalau orangtua saya pencuri, tentu saya pilih Orde Baru”

 

*) dari buku Humor Politik Indonesia, Felicia NS.

PUNK ROCK STYLE alias MULLET

Tiap masa punya gaya. Begitulah, di tahun 80an ada gaya rambut anak muda yang sangat khas, punk rock style : bagian depan dipangkas rapi dan kadang berjambul, bagian belakang dibiarkan memanjang. Gaya ini memang identik dengan mewabahnya musik new wave, turunan punk rock yang dipelopori oleh kelompok musik Duran Duran, band dari Birmingham Inggris. Bagian belakang yang panjang itu bisa dibiarkan tergerai atau dikuncir seperti rambut orang Indian. Ada juga yang bilang model rambut Mullet. Kalau anda penggemar film action, pasti pernah menonton salah satu film Van Damme. Nah gaya rambut Van Damme itu bisa jadi contoh seperti apa punk rock style atau mullet itu. Gaya ini perlahan memudar dengan sendirinya di akhir 80an, seiring dengan meredupnya Duran Duran dan New Wave. Anak-anak muda seolah kembali ke era 70an dengan rambut gondrong ala bintang Rock/Heavy Metal.

 

 

Ada cerita lucu tentang rambut punk rock itu. Sekali waktu kami, saya dan beberapa orang teman, harus berurusan dengan aparat Kodim Makassar karena perselisihan dengan anggota Resimen Mahasiswa Kopertis di Makassar. Seorang teman yang ikut dibawa ke Kodim kebetulan berkuncir cukup panjang. Oleh tentara, kuncir itu dipotong dengan sangkur sambil bilang : “Ini rambut duran-duran, harus dipotong. Mahasiswa harus rapi..!!”

Alamaaak……😀

 

karet tengsin 14 september 2017

 

 

Rohingya

Benar, pada kebiadaban pemerintahan Myanmar memberangus etnik Rohingya, segenap tindakan protes mesti kita sampaikan. Jika dirasa tak cukup dengan sekedar protes, alamatkan pula makian atau sumpah serapah. Kalau perlu yang paling kasar sekalipun.

Anda berhak geram, atau marah. Dan kegeraman atau kemarahan itu sesuatu yang lumrah, sebab itu tandanya insting kemanusiaan kita masih hidup. Segenap perasaan empati yang secara spontan timbul ketika ketidakadilan terjadi, kita turut berbelasa rasa tanpa diminta dan dipaksa.

Itu tandanya, kita pun manusia. Sama seperti mereka, warga etnik rohingya.

Tapi ketika kemarahan kita itu justru dipantik karena rezim Myanmar itu beragama tertentu, lalu serta merta menggeneralisasinya dengan menyudutkan agama tertentu, maka sepertinya ada yang keliru dengan sikap kita itu.

Anda mungkin ingat dengan Jenderal Idi Amin, diktator bengis dari Uganda. Anda ingat dengan kekejaman Stalin atau Hitler, atau kebiadaban Abu Bakar Al-Baghdadi.

Dari deretan nama-nama Diktator itu, yang kemungkinan daftarnya masih akan bertambah panjang, kita semestinya paham bahwa kebiadaban, kebengisan, dan tindak kekejaman lainnya, bisa hinggap kepada siapa saja dengan apapun keyakinan yang diimaninya.

Karena itu, tindakan brutal tidak sepantasnya digeneralisasi lalu dialamatkan pada keyakinan tertentu karena kebetulan pelaku kekejaman itu beragama yang sama. Yang kemudian berujung pada respon protes yang justru mengutuki agamanya.

Itu jelas keliru. Di muka bumi, tidak ada satupun keyakinan yang menganjurkan atau membenarkan kekejaman dan tindak kekerasan. Tidak ada satu pun.

Agama, jika benar adalah sebagai jalan keselamatan, pasti membawa kedamaian. Dan karena itu, ia selalu menghadirkan tempat bagi keyakinan yang berbeda. Dari sanalah bermula kehidupan yang lebih baik untuk siapa saja, damai, dan berdampingan.

Maka sikap kita untuk Rohingya adalah kemarahan yang dibangun oleh empati kemanusian. Dan atas nama kemanusiaan, anda tidak butuh alasan ideologis atau kesamaan keyakinan bahwa penindasan dan kekejaman harus dilawan.

 

Jogjakarta, 2 September dini hari.

NOKTAH KECIL DI ALAM SEMESTA BERNAMA BUMI

Dari jarak sejauh ini, Bumi tampak tidak penting. Namun bagi kita, lain lagi ceritanya. Renungkan lagi titik itu. Itulah tempatnya. Itulah rumah. Itulah kita. Di atasnya, semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu ketahui, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka. Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang merasa benar, setiap pemburu dan pengumpul, setiap pahlawan dan pengecut, setiap perintis dan pemusnah peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu, ayah, dan anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan petualang, setiap pengajar kebaikan, setiap politisi rakus, setiap “bintang”, setiap “pemimpin besar”, setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah umat manusia, hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.

 

 

Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya jagat raya. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan penguasa sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa yang fana di sepotong kecil titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa kejam mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa dalam kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

 

Bumi adalah satu-satunya dunia yang sejauh ini diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya untuk sementara, yang bisa menjadi penyelamat spesies kita. Kunjungi? Ya. Menetap? Belum saatnya. Suka atau tidak, untuk saat ini Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup. Sering dikatakan bahwa astronomi adalah suatu hal yang merendahkan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang dapat menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citra dunia kita yang mungil ini. Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenali bersama.

 

 

—Carl Sagan (1934-1996)

AMIEN RAIS

 

Tahun 2004, euforia reformasi masih kental terasa, peristiwa yang membawa begitu banyak perubahan di negeri ini, termasuk pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden. Menjelang Pemilu di tahun itu, nama Amien Rais masih sangat berkilau. Sebagai lokomotif reformasi – ini julukan yang diberikan media kepadanya dan diaminkan semua pihak – Amien Rais merupakan satu dari sedikit calon presiden yang sangat diperhitungkan. Saya pribadi adalah salah satu pengagum beliau. Bahkan jauh sebelum reformasi, dialah salah satu tokoh utama penentang Suharto, sang penguasa Orde Baru. Rekam-jejaknya terbaca jelas. Ada yang bilang, andai di tahun 1999 Amien Rais bersedia maju sebagai calon presiden, bisa dipastikan dialah yang terpilih dan bukan Abdurrrahman Wahid. Terpukaunya saya itu bukan hanya pada Amien Rais pribadi tapi juga pada partai politik yang dibentuknya, Partai Amanah Nasional, PAN. Buat saya, inilah kesempatan baik bagi bangsa ini untuk memperoleh pemimpin yang benar, dengan gerbong intelektual muslim Muhammadiyah yang dibawanya. Walupun kemudian beliau tidak terpilih, namanya masih tetap diperhitungkan sebagai penjaga arah reformasi. Dalam posisi itu, seyogyanya pak Amien bisa menempatkan diri sebagai tokoh nasional yang berdiri di atas semua golongan. Sayang bahwa pak Amien mengulangi kesalahan banyak tokoh sejarah negeri ini, tetap bermain politik praktis, tetap memperlihatkan syahwat politiknya untuk merebut kekuasaan. Dan hal itu dilakukannya hingga saat ini, di saat usianya memasuki tiga perempat abad. Rasa hormat padanya sedikit demi sedikit tergerus habis, sepak terjangnya sejak Orde Baru hingga masa reformasi seolah tak meninggalkan bekas, berubah menjadi seorang kakek yang menyebalkan. Saya tak tahu, yang mana sesungguhnya Amien Rais : Amien Rais sang penentang Orde Baru dan lokomotif reformasi atau Amien Rais yang menyebalkan saat ini.

 

 

SPA, malam ramadhan ke-14, 2017