Arsip Kategori: Urban

DILARANG BERBUAT ASUSILA

riauheadline_Apes--Kenalan-Lewat-Medsos-Berujung-Asusiala-di-Dumai

 

Di setiap kamar spa dan massage selalu ada tulisan dengan warna menyolok berisi peringatan : DILARANG BERBUAT ASUSILA. Anehnya, para terapis wanita yang rata-rata berpakaian minim dan seksi itu selalu mengakhiri setiap sesi pijatan dengan pertanyaan penuh godaan : “bagian mana lagi yang mau dipijat om?” Nah!

 

BaladaKaumUrban

JANCY RAIB dan GENANGAN AIR di KOTA MAKASSAR


Kolonel purnawirawan Jancy Raib memimpin Makassar sebagai walikota hanya satu periode, 1983 – 1988. Di tahun-tahun itu pula saya melewati masa-masa sekolah menengah dan sebagian masa kuliah saya. Tempat tinggal saya di Baraya, tepat di pinggir kali Pannampu, sangat sering tergenang air. Seingat saya kali Pannampu memang tidak pernah dibersihkan sebelumnya. Permukaan kali itu dipenuhi tanaman eceng gondok dan kangkung serta sampah yang bertebaran.

Di akhir masa jabatannya yang pendek itu, pak Jancy Raib membuat sebuah program yang dampaknya terasa puluhan tahun kemudian : mengeruk kali dan sungai kecil yang ada di kota Makassar, memperkuat bibir kali dengan talud dan membangun jalan-jalan lingkungan di kedua sisi kali. Tentu saja termasuk kali Pannampu di tempat tinggal saya. Kita saksikan bahwa bertahun-tahun setelah masa kepemimpinan beliau, sebagian besar wilayah kota Makassar terbebas dari genangan air saat musim hujan.

Ada satu pelajaran berharga yang harusnya bisa kita petik dari pengalaman di atas, bahwa penanganan terbaik untuk mengatasi genangan air adalah dengan memperbaiki daerah aliran air. Kanal-kanal yang dibangun pada masa pak Jancy harusnya dikeruk, saluran primer-sekunder dibersihkan. Jangan lupa menyediakan tempat sampah yang layak bagi warga kota, sebab masalah drainase di kota ini tak terlepas dari persoalan sampah. Dan yang paling penting adalah memikirkan hal ini secara terpadu dan menyeluruh, dalam skala kawasan. Genangan air tak bisa diatasi hanya dengan meninggikan badan jalan seperti yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar saat ini di Jalan Boulevard Panakkukang. Itu namanya memindahkan air dari comberan dan jalanan ke rumah warga. Mikiiir dong……!!

KOTA TANPA PEJALAN KAKI – dimuat di Kolom Literasi Koran Tempo Makassar, 22 Juni 2013

Oleh : Erni Aladjai


Sebuah kota dengan jumlah pedestrian (pejalan kaki) terbesar adalah kota yang beradab. Sementara manusia pengguna mobil dan kendaraan roda dua adalah bagian yang tak manusiawi di kota besar (meski tak semua pengguna kendaraan tak menghormati pedestrian).

Sikap manusia di kota besar yang tak manusiawi kemudian makin dikukuhkan oleh pemerintah, penata kota, pemilik mall dan pedagang kaki lima. Pemerintah bersekongkol dengan pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima menyerobot trotoar, pemerintah hidup dari pajak tak resmi si pedagang kaki lima. Di sisi lain, ada mall atau gedung perkantoran yang hanya menyediakan lahan parkir untuk mobil. Sehingga motor terparkir di trotoar. Hal lainnya sikap pelit tak pantas yang mendarah daging. Hingga manusia tak mau membayar pajak yang mahal sedikit, demi tempat parkir resmi – yang bukan di trotoar dan pinggir jalan. Di sisi yang lain lagi, demi keselamatan dan rasa aman, maka seseorang harus punya kendaraan.

Pernyataan saya di atas memang lugu dan sinis, tapi bagi saya, tak apa-apa untuk mengulang sesuatu yang batu dan terus berulang-ulang menjadi masalah fatal dan vital. Tahun 2004, ketika saya di Makassar, seorang pengendara motor ngebut dan menyalip saat saya menyeberang jalan, ketika saya memarahi dan mengingatkan ia untuk menghargai pedestrian, ia justru balik marah besar. Bukannya meminta maaf karena nyaris memutus nyawa seseorang. Ketika itu saya berpikir, Oh jadi jika Tuan sudah punya mobil atau kendaraan, maka jalan adalah milik Tuan, begitu? Pengguna jalan yang lain, yang menggunakan kaki─bukan mesin, bukanlah siapa-siapa. Tuan sungguh beradab!
Benny H Hoed, guru besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia mengatakan; di negeri kita, pemaknaan sosial atas tempat yang disebut “jalan” telah mengalami pemaknaan yang melenceng. Pembangunan jalan-jalan di kota-kota kita—termasuk di Jakarta (saya tambahkan, di Makassar juga)—seakan tidak memasukkan jalur khusus bagi pejalan kaki. Yang dipentingkan adalah jalur kendaraan bermotor.

Bahkan zebra cross kehilangan makna. Pengendara mobil dan kendaraan bermotor belajar melupakan Undang-undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan, bahwa mereka diharuskan mengalah kepada penyeberang jalan. Pejalan kaki di negeri kita, justru diminta mengalah untuk sesuka-suka hati pemilik kendaraan memberikan kesempatan menyeberang. Sungguh di negeri kita, orang belajar tidak adil dan menindas sejak di jalan. Saya jadi teringat perkataan Roland Barthes, bahwa kota besar paling sering tak manusiawi.

Di Jakarta, tiga tahun belakangan ini, banyak anak muda, orang dewasa dan lansia yang vokal menuntut hak-hak pedestrian. Sebab mereka atau kita semua tahu, jalan kaki adalah memang bagian dari manusia. Banyak artikel kesehatan mengatakan jalan kakilah untuk mengurangi penyakit tulang, obesitas, diabetes, bahkan bisa mengurangi resiko terkena kanker payudara.

Ada pula sebuah artikel kesehatan yang mengatakan berjalan kaki membuat kita bahagia karena jalan kaki bisa mengurangi resiko stres dan depresi, saya percaya ini. Tapi jika Anda berjalan kaki di kota-kota besar di Indonesia, maka yang terjadi adalah; saya jamin, anda  makin depresi.

Dan saat ini dengan imajinasi “berlebihan”, saya membayangkan Indonesia bisa mencontoh Athena. Athena adalah kota paling beradab sejak zaman dewa-dewa. Julukan untuk kota ini adalah “Taman bermain para Dewa”. Label beradab Athena tak lepas dari cara manusianya memperlakukan para pejalan kaki. Bahkan istilah pedestrian sendiri bermula dari kisah Dewa Hermes dalam mitologo Yunani kuno. Dikisahkan Dewa Hermes adalah dewa pelindung para pengelana, pejalan kaki dan para saudagar yang mengembara. Itulah kenapa tata kota Athena teduh, jalanannya bersih, penuh taman, gedung-gedung penuh sentuhan kemanusiaan, sehingga semua orang bahagia saat berjalan kaki.

Memang sebagai negara berkembang yang hanya tahu berkembang biak, terlalu jauh jika kita mencontoh tata kota Athena yang melindungi pejalan kaki, tapi kita bisa menengok negeri tetangga; Malaysia. Kenapa Malaysia yang dulunya di era Soekarno belajar banyak hal dari negeri kita, mampu melindungi pejalan kakinya, sementara negeri tercinta kita; Indonesia, tak berlaku begitu?

Ah, apakah Tuan dan Pemerintah kita pura-pura tidak tahu atau menutup mata, bahwa ketergantungan pada kendaraan bermotor menciptakan biaya menjulang pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan? Sementara negeri kita belum menjalankan manajemen mobilitas dengan sungguh-sungguh. Hingga sedikit pun warga tak diberi rasa aman seperti yang ditawarkan  negara-negara lain seperti; Singapura, Malasyia, Amsterdam, San Fransico atau Praha.

Belanda adalah negara yang paling serius menerapkan manajemen mobilitas, banyak perusahaan di Amsterdam menurunkan tingkat pemakaian mobil hingga 10 persen, yang kemudian diganti dengan sepeda.

Kini kita hanya bisa merindukan era tahun 70-80-an, di mana ketika itu kota Makassar masih penuh pohon dan orang bepergian dengan jalan kaki. Trotoar tetap trotoar, tanpa tukang tambal ban. Tanpa tenda pedagang. Tanpa patung taman. Tanpa nisan yang sedang dijemur.

Dan bagi saya, kota tanpa pejalan kaki adalah hampa.

MEKAH

CATATAN PINGGIR GOENAWAN MOHAMAD

Mekah

— Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah

Betapa berubahnya Mekah. Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.

Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis الله أكبر, “Allahu Akbar.”

Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Juga tempat tinggal. Garasenya bisa menampung 1000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.

Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya “di bawah lindungan Kaabah”? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.

Betapa berubahnya Mekah. Atau jangan-jangan malah berakhir. “It is the end of Mekkah“, kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage Research Foundation di London kepada The Guardian. Nada suaranya murung seperti juga suara Sami Angawy.

Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. “Mereka ubah tempat ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut gunung dan bukit.”

Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin naik; kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru melihat di situlah perkaranya. Ia menyaksikan “lapisan-lapisan sejarah” Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parkir.

Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya yang didesain dengan gaya tradisional Hijaz. Ketika Abraj al Bait dibangun seperti Big Ben yang digembrotkan (“meniru seperti monyet”, kata Angawy) ia merasa kalah total. Ia lebih suka tinggal di Kairo.

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena “komersialisasi Baitullah” kota suci itu hilang sifat uniknya. Angawy menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.

Wahabisme, kata Angawy, adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu. Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak mencegah orang jadi “syrik” bila berziarah ke petilasan Nabi, bila menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah — dan sebab itu harus disembah.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum.

Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri “Komite Hijaz” di kediaman K. H. Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.

Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu. Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah berubah.

Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams. Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan keras dan angker mencurigai “kemoderenan”; mereka bahkan membongkar antena radio dan menolak lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan Abraj al Bait bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga transformasi Mekah jadi semacam London & Las Vegas. Apa yang terjadi?

Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan (menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik “kemoderenan”, (menidakkan masa depan) adalah sikap yang anti-Waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya hanya menjadikan Waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses sejarah.

Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok yang pedih dan yang dahsyat di masa silam?

Mungkin piknik instan ke kemewahan.

Diposkan pada November 9, 2012

TERGUSURNYA JEJAK SEJARAH MAKKAH

Tanggal 19 Agustus 2011, Raja Abdullah bin Abdul Aziz meletakkan batu pertama menandai renovasi besar-besaran Kompleks Masjidil Haram yang ia gagas. Proyek perluasan ini dilakukan pada area seluas 400 ribu meter persegi. Ia menyebutnya King Abdullah Expansion.

Sang raja berkeinginan Masjidil Haram lebih longgar. Dengan demikian, masjid dapat menampung tambahan 1,2 juta jamaah. Pemerintah Arab Saudi mengalokasikan dana 21 miliar dolar AS untuk membiayai proyek besar tersebut.

Rencana pengembangan kawasan Masjid Al Haram, Makkah

Semua ditangani dengan menggunakan sistem mekanik dan elektrik canggih. Sejumlah jembatan dibangun menghubungkan masjid dengan tempat sai, yaitu Safa dan Marwah. Dibuat pula sistem pengelolaan sampah serta pemantauan keamanan modern.

Pembangunan Makkah Royal Clock Tower atau jam menara mengiringi perluasan Masjidil Haram. Ini menjadi menara paling tinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab. Jam raksasa ini merupakan bagian dari bangunan Makkah Clock Tower Hotel.

Tinggi bangunan mencapai 601 meter dengan 76 tingkat serta 858 kamar. Letaknya menghadap ke Masjidil Haram. Pengeras suara di menara jam menjadi pelengkap. Gunanya, untuk mengumandangkan azan. Dari sini, suara azan bisa terdengar sampai jarak tujuh km.

Pada 2020 diperkirakan seluruh proyek perluasan di Makkah dan Masjidil Haram tuntas. Pada 14 Agustus 2012 Arab Saudi juga menetapkan rencana modernisasi sistem transportasi di Makkah. Di dalamnya, termasuk jaringan bus dan metro.

Nilai proyek itu menembus angka 16,5 miliar dolar AS. Jalur metro dengan panjang 182 km dibangun di seluruh kota dengan 88 stasiun. Konstruksi proyek besar ini akan dibangun dalam waktu 10 tahun. Setahun sebelumnya, terungkap pula rencana besar lainnya.

Dalam kurun enam tahun, Pemerintah Kota Makkah bertekad membuat jalan-jalan baru di Makkah. Proyek jangka panjang lainnya di sekitar Masjidil Haram adalah pendirian hotel, pusat perbelanjaan, dan kafe. Di wilayah suburban disediakan kompleks perumahan dan taman.

Fasilitas tersebut diperuntukkan bagi warga yang direlokasi dari pusat kota. Di sisi lain, ada suara kritis mengemuka. “Hal yang kami inginkan adalah pengembangan Makkah, bukan malah mengubahnya,” ujar Sami Angawi, pendiri Pusat Penelitian Haji dan pakar Makkah.

Ketidaknyamanan ini membuat Angawi yang asli Makkah tak lagi menginjakkan kaki di kota kelahirannya itu sejak 2009. Ia tak senang dengan cara Makkah bertransformasi. Menurutnya, pembangunan kerap menggusur tempat-tempat bersejarah.

“Saya mencintai Makkah dan tak tahan melihat Kota Nabi ini dihancurkan,” kata Angawi. Ia tak keberatan dengan perluasan kapasitas Masjidil Haram. Apalagi, perluasan itu demi kepentingan jamaah. Ia mengaku tak merasa sreg dengan keberadaan jam menara.

Dalam pandangan dia, jam menara tak menunjukkan rasa hormat pada Ka’bah. “Makkah adalah jantung dunia Islam. Apa yang pemerintah kami lakukan adalah mengubah jantung itu dari yang semula bersifat natural menjadi mekanik,” kata Angawi yang kini tinggal di Jeddah.

Jam menara yang menjulang hingga 610 meter sejak 2011 berdiri di bekas benteng masa pemerintahan Turki Usmani. Benteng Ajyad itu dibangun pada 1781 untuk mengadang para bandit. Pada 2002 benteng digusur, hilang tak berbekas.

Angawi menceritakan, rumah sahabat Nabi, Abu Bakar, sekarang menjadi tempat Hotel Hilton berdiri. Sedangkan, rumah cucu Nabi diratakan untuk istana raja. “Mereka mengubah tempat suci menjadi sebuah mesin,” kata Angawi.

Menurut dia, Makkah kini merupakan kota tanpa identitas, budaya, pusaka, dan lingkungan alami. Angawi mengatakan, tak ada tempat di dunia selain Makkah yang memulai pengembangan dengan membuldozer bangunan terlebih dahulu.

Harusnya ada rancangan pembangunan baru membuldozer bangunan. Jika semuanya berhenti sekarang, belum terlalu telat. “Kalau tidak, kita akan menanggung risiko kehilangan kesakralan Makkah untuk selamanya,” kata Angawi.

Wafa Sbbet (50 tahun), Muslim asal Sydney, Australia, yang berhaji pada 2011 merasakan perasaan yang sama dengan Angawi. Desain Makkah kini tak lagi berciri Arab tradisional. Apa yang mereka buat, ujar dia, seperti bangunan-bangunan di Australia.

“Ini membuat saya tak merasa berada di Arab atau Makkah,” kata Sbbet. Direktur Islamic Heritage Research Foundation Irfan Alawi pun setali tiga uang. Menurut dia, Arab Saudi berusaha menghancurkan apa pun yang ada hubungan dengan Nabi Muhammad.

Mereka membuldozer rumah istri Rasulullah, Khadijah, cucu, dan sahabatnya. “Kini, mereka merangsek ke tempat lahir Nabi. Untuk apa? Hotel bintang tujuh,” katanya, seperti dikutip laman berita Guardian, 14 Oktober 2013.

Di kaki Pegunungan Khandama, sebelah barat Masjidil Haram, ada sebuah bangunan putih berdiri. Ini perpustakaan kecil untuk menandai tempat rumah kelahiran Nabi. Dikenal dengan nama Rumah Maulid. Bangunan tersebut terancam rencana pengembangan.

Di lokasi itu bakal dibangun tempat parkir mobil bawah tanah serta jalur metro. Dua bangunan itu diperlukan guna mengatasi membeludaknya pengunjung Makkah. Pada 2025, target kunjungan mencapai 17 juta orang.

Di seberang jalan perpustakaan, rumah istri Muhammad, Khadijah, sudah bersalin wajah. Kini, berwujud sebuah blok berisi 1.400 unit toilet umum. Sumur berusia 1.400 tahun, Bir Tuwa, tempat Nabi menghabiskan malam, pun berada dalam bahaya.

Lokasi di sekitarnya telah berdiri sejumlah hotel. Tampaknya, kata Alawi, sumur ini akan bernasib sama. Di dalam Masjidil Haram, sebelumnya ada kubah dan tiang batu berusia 500 tahun dari masa Dinasti Abbasiyah. Tapi, sekarang sudah dihancurkan tak berbekas.

Tiang batu berisi pahatan puisi yang mengisahkan perjalanan Nabi Muhammad serta situs-situs haji. Di sebelah utara Masjidil Haram, tepatnya area Shalmiya, lahan 400 ribu meter persegi dipakai untuk memperluas tempat shalat.

Tempat baru ini bisa menampung 1,2 juta jamaah per tahun. Proyek ini ditebus dengan harga mahal. Shalmiya, bagian paling bersejarah di kota tua Makkah, lenyap. Semua telah rata dengan tanah. Warga yang hidup dari satu generasi ke generasi lain di Shalmiya direlokasi.

Ia menyatakan, hotel-hotel mewah bakal berdiri di sejumlah proyek dekat Masjidil Haram. Tak hanya jam menara, tetapi juga proyek lain, seperti Jabal Khandama. “Ini kisah akhir Makkah. Lalu untuk apa?” tanya Alawi.

Sebagian besar hotel yang sudah berdiri dekat Masjidil Haram hanya terisi setengahnya. Mal-mal juga kosong. Sebab, sewa ruangan di sana terlalu mahal bagi bekas pedagang di kios Pasar Seng yang sudah digusur.

Namun, sejak awal Raja Abdullah menegaskan, perluasan Masjidil Haram merupakan kewajiban agama. Perluasan perlu untuk menampung jamaah haji yang membeludak. “Kami telah meletakkan batu pertama renovasi Masjidil Haram dan proyek lainnya.”

Langkah sang raja memperoleh dukungan ulama senior Arab Saudi Syekh Saad bin Nasser al-Shathri. Dalam pemberitaan Guardian, 4 Oktober 2013, ia meminta Muslim dunia mendukung proyek perluasan Masjidil Haram yang sedang berjalan.

Dari Republika Online, 26 Februari 2014