Arsip Kategori: Musik

PUNK ROCK STYLE alias MULLET

Tiap masa punya gaya. Begitulah, di tahun 80an ada gaya rambut anak muda yang sangat khas, punk rock style : bagian depan dipangkas rapi dan kadang berjambul, bagian belakang dibiarkan memanjang. Gaya ini memang identik dengan mewabahnya musik new wave, turunan punk rock yang dipelopori oleh kelompok musik Duran Duran, band dari Birmingham Inggris. Bagian belakang yang panjang itu bisa dibiarkan tergerai atau dikuncir seperti rambut orang Indian. Ada juga yang bilang model rambut Mullet. Kalau anda penggemar film action, pasti pernah menonton salah satu film Van Damme. Nah gaya rambut Van Damme itu bisa jadi contoh seperti apa punk rock style atau mullet itu. Gaya ini perlahan memudar dengan sendirinya di akhir 80an, seiring dengan meredupnya Duran Duran dan New Wave. Anak-anak muda seolah kembali ke era 70an dengan rambut gondrong ala bintang Rock/Heavy Metal.

 

 

Ada cerita lucu tentang rambut punk rock itu. Sekali waktu kami, saya dan beberapa orang teman, harus berurusan dengan aparat Kodim Makassar karena perselisihan dengan anggota Resimen Mahasiswa Kopertis di Makassar. Seorang teman yang ikut dibawa ke Kodim kebetulan berkuncir cukup panjang. Oleh tentara, kuncir itu dipotong dengan sangkur sambil bilang : “Ini rambut duran-duran, harus dipotong. Mahasiswa harus rapi..!!”

Alamaaak……😀

 

karet tengsin 14 september 2017

 

 

MY GUITAR WANTS TO KILL YOUR MAMA

 

 

frank_zappa3

 

Lagu ini selalu mengingatkan saya pada Frank Vincent Zappa; seorang komposer,  gitaris, penyanyi, sutradara film dan satiris dari Amerika Serikat. Meninggal pada usia 52 tahun di tahun 1993, Frank Zappa menghasilkan lebih dari 60 album.

zappa

Lagu ini memang diciptakan Frank Zappa. Pertama kali direkam sebagai sebuah singel pada tahun 1969 oleh The Mother of Invention, sebuah band rock yang kemudian menjadi band pengiring Frank Zappa dalam banyak album yang diproduksinya. Frank Zappa sendiri baru merekam “My Guitar” sepuluh tahun kemudian, 1979, dalam album Joe’s Garage.

Ada dua versi lagi dari lagu yang sama. Dweezil Zappa (anak Frank Zappa) merekamnya pada tahun 1988 sebagai perhormatandan kepada sang ayah, dan sebuah versi a cappala juga untuk sebuah tribute album “Frankly A Cappela”.

Saya sendiri lebih menyukai versi G3 di atas, sebuah grup yang terdiri dari tiga orang gitaris, Joe Satriani, Steve Vai dan Eric Johnson, yang direkam dalam tour mereka di tahun 1996. Lebih garang, lebih ngerock. Tentu saja, ada tiga gitar yang meraung-raung di sana.

Lingkas, 25 Oktober 2016

MUSIK MURAM PORTISHEAD

Portishead-Glory-Box

Tak seperti grup band pada umumnya, Portishead justeru enggan mendapatkan liputan pers setelah mengeluarkan album pertama mereka, Dummy, pada tahun 1994. Geoff Barrow, Beth Gibbons dan Adrian Utley, tiga personil Portishead asal Bristol Inggris itu langsung mencapai sukses di Inggris dan Amerika lewat album pertama mereka yang hanya berisi tiga single, “Numb”, “Sour Times” dan ‘Glory Box”. Setahun kemudian Dummy memenangkan Mercury Music Prize 1995. Album yang sama pada tahun 2003 menduduki peringkat 419 pada daftar 500 Greatest Albums of All Time dari majalah musik Rolling Stone.

Wikipedia memberi label trip hop untuk genre musik Portishead, musik dengan tempo lambat yang konsisten dibarengi unsur electro. Nama Portishead sendiri diambil dari nama daerah asal mereka, 13 kilometer ke arah barat Bristol. Kalau anda penggemar British Rock dari generasi 90an, mungkin akan ingat iklan Levi’s 501 yang menggunakan Glory Box sebagai musik latarnya. Lagu yang sangat unik dan terdengar muram, kental dengan nuansa apatisme, bukan saja oleh liriknya tetapi juga karena gaya vokal dan cara bernyanyi Beth Gibbons. Ada yang bilang judul Glory Box diambil dari istilah orang Australia untuk lemari tempat menyimpan pakaian dan barang-barang lainnya saat persiapan  sebuah pernikahan. Entahlah. Kata glory box sendiri tidak muncul dalam lirik lagunya.

I’m so tired of playing

Playin’ with this bow and arrow
I gonna give my heart away
Leave it to the other girls to play
For I’ve been a temptress too long

Just give me a reason to love you
Give me a reason to be a woman
I just wanna be a woman

From this time unchained
We’re all lookin’ at a different picture
Through this new frame of mind
A thousand flowers could bloom
Move over and give us some room, yea

Give me a reason to love you
Give me a reason to be a woman
I just wanna be a woman

So don’t you stop, being a man
Just take a little look
From our side when you can

Show a little tenderness
No matter if you cry

Give me a reason to love you
Give me a reason to be a woman
I just wanna be a woman
‘Cause it’s all I wanna be is all a woman, yea

For this is the beginning of forever and ever
Its time to move over
So tired of playing

So tired of playing
Playin’ with this bow and arrow
I gonna give my heart away
Leave it to the other girls, to play
For I’ve been a temptress too long

Just give me a reason to love you
Give me a reason to be

 

Lingkas, 14 Juni 2016

 

FADE TO BLACK

RIDE THE LIGHTNING

This is a song about ‘suicidal feelings’. Tema seperti ini banyak kita temukan pada lagu-lagu rock di era 70-80an. Lagu Suicide Solution milik Judas Priest pernah menghebohkan karena dianggap memicu tindakan bunuh diri beberapa anak muda di jaman itu. Di samping perasaan putus asa akibat pengaruh penggunaan narkotika yang begitu marak saat itu, bunuh diri juga bahkan dianggap semacam mode : mati muda saat berada di puncak hidup adalah yang terbaik. Elvis Presley, Curt Cobain, adalah beberapa contoh. Tentunya James Hatfield dan kawan-kawan tak bermaksud menganjurkan pengemarnya untuk ikut-ikutan bunuh diri lewat lagu mereka.

Diawali dengan gitar akustik pada intro, dan menjadi semakin berat sampai menjelang akhir lagu – sesuatu yang kemudian juga ada pada lagu Sanitarium (Welcome Home) dan One. Fade To Black dirilis pada 1984 dan selalu menjadi lagu penutup pada setiap konser Metallica. Official videonya di Youtube telah diakses lebih dari 30 juta kali.

 

Life, it seems, will fade away

Drifting further every day

Getting lost within myself

Nothing matters, no one else

 

I have lost the will to live

Simply nothing more to give

There is nothing more for me

Need the end to set me free

 

Things not what they used to be

Missing one inside of me

Deathly lost, this can’t be real

Cannot stand this hell I feel

 

Emptiness is filling me

To the point of agony

Growing darkness taking dawn

I was me, but now he’s gone

 

No one but me can save myself, but it’s too late

Now I can’t think, think why I should even try

 

Yesterday seems as though it never existed

Death greets me warm, now I will just say goodbye

 

 

 

Lingkas, 14 Juni 2016

KING JEREMY

pearl_jam_poster (1)

PEARL JAM – JEREMY

Ini mungkin lagu yang paling fenomenal dari Pearl Jam setelah Black. Lagu yang diinspirasi oleh begitu banyak peristiwa kekerasan bersenjata di sekolah-sekolah Amerika, terutama tentang Jeremy Wade Delle, remaja 16 tahun dari Richardson Texas. Satu hari di bulan Januari 1991, Jeremy datang ke kelas Bahasa Inggrisnya, berdiri di depan kelas dan menembak kepalanya sendiri dengan sebuah pestol Magnum 357. Sebuah peristiwa yang bermula dari hal-hal sepele yang terjadi di rumah.

 Daddy didn’t give affection, no

And the boy was something that mommy wouldn’t wear

King Jeremy the wicked

Oh, ruled his world

 Jeremy spoke in class today

………….

 Sebagian lagu ini, pada bagian kedua lagu, juga merupakan pengalaman pribadi sang vokalis Pearl Jam sendiri, Eddie Vedder, semasa di sekolah menengah.

Bisa jadi setiap orang punya interpretasi yang berbeda bila mendengar lagu ini, sesuai pengalaman masing-masing. Kata Eddie Vedder, “I think of Jeremy when I sing it”.

Makassar, 21 Agustus 2015

LIMP BIZKIT


Limp Bizkit, entah apa artinya, tapi itulah dua kata yang digunakan band rapcore rock dari Jacksonville, Florida Amerika Serikat ini, yang membawa mereka menjadi terkenal sejak 1997 saat melepas album pertama mereka, Three Dollar Bill Y’all. Bersama Korn, mereka memperkenalkan genre baru Nu Metal, kombinasi grunge dan alternative dengan funk-hip hop. Genre yang kemudian diteruskan Linkin Park dan Slipknot.

Sebagai vokalis, Fred Durst menjadi daya tarik utama band ini, dalam rekaman maupun aksi panggung. Kau bisa menyaksikan aksi panggung dan vokal Fred Durst yang unik pada lagu Welcome Home (Sanitarium), lagu milik Metallica yang mereka bawakan pada konser A Salute To Metallica. Sebuah konser yang diisi banyak band metal ternama untuk menghormati sang legenda, Metallica.

CHUCK BERRY

Mungkin rock and roll takkan seperti saat ini, bila Chuck Berry tak sempat lahir ke dunia. Lelaki hitam dari St. Louis Missouri ini sepertinya memang dilahirkan untuk mengawal rock and roll. Tak ada satupun musisi, bahkan Elvis Presley atau Jimi Hendrix, yang bisa menyamai andil Chuck Berry memberi warna pada musik ini. “Kalau engkau mau memberi sebutan lain untuk rock and roll, kau boleh menyebutnya Chuck Berry”. Itu kata John Lennon, dan semua musisi rock mengangguk setuju.

Johnny B. Goode adalah salah satu ciptaan Chuck Berry yang paling fenomenal. Dinyanyikan oleh hampir semua musisi dan band rock, lagu ini termasuk satu dari 500 lagu terpenting dalam sejarah musik rock and roll. Cover version terbaik mungkin telah dibuat oleh The Rolling Stones dan Judas Priest, tapi saya tetap menyukai versi asli milik sang maestro. Clipnya di youtube telah diakses 35 juta kali.

Ok, let’s rock………\m/

Johnny B. Goode

Nadine

Maybellene 1955