Arsip Kategori: General

GENETIKA POLITIK dan PILPRES 2019


Manusia dalam pandangan politik dapat dikategorikan dalam dua kelompok, Konservatif dan Progresif. Kelompok pertama lebih mengutamakan keteraturan, tertib, tidak boleh berubah. Mereka menyukai aturan yang lestari (conserved). Kelompok kedua lebih mementingkan kebahagiaan (happiness) dan hak-hak individu. Bagi seorang progresif, aturan harus mengikuti perkembangan masyarakat, sebab kemanusiaan jauh lebih penting dari aturan.

Seseorang menjadi konservatif atau progresif sebenarnya dapat ditelusuri secara genetik dari struktur dan pola kerja otak. Otak seorang konservatif memiliki amigdala (amygdalae) yang lebih tebal. Amigdala dipercayai merupakan bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi. Bagian otak ini akan menjadi sangat aktif ketika kita merasa takut. Orang konservatif yang didorong oleh rasa takut menyukai karakter pemimpin yang kuat, tegas dan berwibawa. Mereka bahkan akan lebih terbuka menerima pemimpin yang otoriter, karena dengan begitu ketertiban didalam masyarakat akan dapat dicapai.

Otak seorang progresif memiliki insula yang lebih tebal. Beberapa fungsi insula pada otak adalah menjaga tingkat kesadaran, rasa empati pada orang lain, serta menyimpan informasi tentang pengalaman interpersonal. Orang progresif yang didorong oleh rasa empatinya akan lebih menyukai karakteristik pemimpin yang merakyat, simpatik dan mau mendengar. Bagi kaum progresif, ide-ide kesejahteraan yang merata, masyarakat demokratis dan kebahagiaan bagi orang banyak lebih menarik. Pemimpin yang demokratis meskipun kurang tegas akan lebih mudah diterima oleh kelompok progresif. Karena pemimpin yang otoriter akan mematikan proses demokratisasi dan merampas hak-hak individu.

Konservatif dan progresif ini adalah dua kutub dari sebuah spektrum. Mayoritas masyarakat berada di antara dua kutub tersebut, dengan amigdala dan insula yang hampir sama tebalnya. Pengetahuan tentang pola kerja otak ini dimanfaatkan dengan baik oleh badan intelijen Rusia (dahulu Uni Soviet) untuk kepentingan politik keamanan negara. Teknik yang dikembangkan KGB ini dikenal dengan nama Firehose of Falsehood, yaitu menggunakan kebohongan yang kentara (obvious lies) sebagai alat propaganda. Teknik firehose of falsehoods ini memang dirancang untuk membangun ketidakpercayaan terhadap informasi. Termasuk ketidak percayaan pada media masa mainstream. Kita tentu masih ingat statemen Prabowo Subianto tentang ketidak-percayaan dia pada semua media mainstream, kecuali TVOne. Dengan demikian, masyarakat akan merasa ketakutan secara terus-menerus. Kondisi ini tentu saja akan membuat amigdala masyarakat aktif secara terus menerus pula dan mendorong terbentuknya kelompok konservatif.

Data Cambridge Analytica (CA), sebuah perusahaan komunikasi yang bekerja untuk kampanye Donald Trump menunjukan, kelompok pemilih konservatif memang cenderung akan memilih Prabowo-Sandi, mereka juga punya sikap tidak suka terhadap figure Jokowi. Sementara kelompok progresif lebih bersikap mendukung ke pemerintahan Jokowi.

Selong, 7 Februari 2019

RAHMAN TOLLENG

“Kita adalah angkatan yang musti punah. Agar tumbuh generasi yang lebih sempurna di atas makam kita”

Rahman Tolleng mengutip penyair Belanda Hanriette Roland Holst. Aktifis eksponen 66 ini meninggal dunia Selasa, 29 Januari 2019.

Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Tak banyak generasi sekarang yang mengenalnya. Dia memang seorang aktifis yang selalu terasing dari gemerlap kekuasaan. Lelaki Bugis ini lahir di Sinjai Sulawesi Selatan, 5 Juli 1937, bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMSos) ketika memulai kuliahnya di Jurusan Apoteker ITB pada tahun 1955 dan berafiliasi dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Di masa Orde Baru Rahman Tolleng beberapa saat menjadi anggota legislatif DPRGR/MPRS maupun DPR/MPR dari Golkar hingga 1974. Di masa reformasi, almarhum bersama beberapa orang aktifis seperti Todung Mulya Lubis dan Rocky Gerung (😀) membentuk Partai Serikat Rakyat Independen (Partai SRI) pada tahun 2011. Ini partai yang didirikan saat itu sebagai kendaraan politik untuk membawa Sri Mulyani Indrawati menuju kursi Presiden RI tahun 2014.

Karet Tengsin 1 Februari 2019

AKAL SEHAT dan pilihan politik

Tidak masalah anda mau pilih paslon yang mana dalam pilpres nanti, itu sepenuhnya hak pribadi yang dijamin undang-undang. Tidak masalah juga bagi saya kalau pilihanmu semata didasarkan pada pertimbangan emisional dan bukan karena ukuran-ukuran yang sifatnya rasional sebagaimana layaknya orang yang terdidik. Itu juga sepenuhnya hak pribadi, sebab menjadi bodoh itu juga sebuah pilihan, walalupun aneh saja seorang insinyur misalnya lebih menggunakan dengkulnya ketimbang akal sehatnya. Silahkan aja. Yang jadi masalah adalah ketika kebodohan itu dipamer-pamer tanpa rasa malu di media sosial.

Ndak paham soal investasi tapi gatal bicara panjang lebar tentang divestasi Freeport Indonesia. Ndak paham apapun tentang studi wilayah tapi sok tahu tentang pengembangan infrasturktur. Ngajinyapun belum tamat iqro 2 tapi seolah-seolah lebih hebat dari ulama. Makin kelihatan koplaknya ketika share berita dan informasi, link yang dibagikan adalah portal pribadi yang meniru-niru nama media mainstream seperti Channel Asia, Tempo dll., bahkan dari blog gratisan seperti blogspot.com. Lebih konyol lagi ada yang memodifikasi halaman depan sebuah media nasional dan ditambahkan text seenak perutnya, seolah kita gampang dikibuli.

Saya ndak punya urusan dan ndak pernah berniat mengajakmu untuk merobah pilihan. Jumlah kalian sungguh tidak berarti, dan tidak kami butuhkan. Maaf. Tetaplah kau di sana, istiqomah dengan pilihanmu. Saya hanya berharap, sedikit lebih cerdaslah dalam mengungkapkan pendapat dan berargumen. Pakailah data-data yang valid, dari sumber yang bisa dipertanggung-jawabkan. Jangan permalukan dirimu. Jangan membuat kuliah yang sudah kau lewati 5-6 tahun dulu itu menjadi tidak berarti.

Wailela Ambon, 17 Januari 2019

P A G E R


Dulu saat hape masih jadi barang langka dan mahal, komunikasi dilakukan dengan telpon umum dan pager : pesan disampaikan dengan telpon umum ke operator pager, kemudian diteruskan ke pengguna pager. Kadang masih bisa kita saksikan di film-film lama tahun 90an, seseorang membaca pesan di pager kemudian buru-buru mencari telpon umum untuk menghubungi pengirim pesan. Saat itu pager adalah gadget andalan, menjadi semacam status symbol bagi orang-orang sibuk : eksekutif muda, pengusaha, tenaga profesional yang lebih banyak beraktifitas di luar kantor. Saking populernya, sampai-sampai sebuah grup musik hiphop bahkan membuat lagu tentang penggunaan pager. Boss saya saat itu, pimpinan perusahaan konsultan nasional, mewajibkan semua engineer-nya berpakaian rapi dan berdasi, lengkap dengan sebuah pager. Image perusahaan harus terjaga, salah satunya dari penampilan para engineer-nya.
Memasuki pertengahan 90an, perlahan pager mulai tergeser oleh telpon seluler alias handphone alias hape. Dalam segala hal, hape jelas lebih praktis walaupun belum bisa dikatakan lebih murah. Satu persatu operator pager berguguran ditinggalkan pelanggannya. Pager kemudian benar-benar menemui ajalnya pada saat operator telpon seluler mengeluarkan kartu pra-bayar, jenis kartu yang memudahkan siapapun dapat memiliki nomor pribadi tanpa persyaratan yang rumit.

Makassar, 28 Desember 2013


BANG ALI dan AHOK

Karangan Bunga di Balaikota DKI


Ali Sadikin atau biasa disapa Bang Ali, Gubernur Jakarta dua periode, hingga sekarang dianggap sebagai gubernur paling legendaris di Jakarta. Dia dianggap sebagai sosok yang paling berhasil memoles ibukota dari sebuah kota kumuh menjadi metropolitan. Kinerja setiap gubernur Jakarta selalu akan dibandingkan dengan Ali Sadikin. Karena prestasinya membangun Jakarta, rakyat seolah tak rela melepasnya. Di bulan Juli 1977 ketika akan meninggalkan Balaikota Jakarta setelah menyelesaikan masa jabatan kedua, ribuan orang berkumpul di halaman Balaikota, merangsek dan berteriak-teriak. Ada yang berteriak, “Hidup Bang Ali, Bang Ali tokoh pembangunan.” Bahkan yang membuat Bang Ali kaget, ada yang membawa spanduk bertuliskan, “Bang Ali calon presiden kita.” Itu sebuah seruan yang sungguh berbahaya di masa Orde Baru.

Dari ribuan orang yang datang, banyak di antaranya ibu-ibu yang meraung sedih. Bang Ali tak menyangka, warga akan melepasnya sedemikian rupa. Yang pasti, kisah Bang Ali itu bukti bahwa pemimpin yang bekerja nyata akan dicintai warga. Ketika selesai bertugas, banyak yang tak rela pemimpin tersebut pensiun.

Saya melihat fenomena Bang Ali itu juga terjadi pada Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Di saat-saat terakhir menjelang keputusan pengadilan untuk kasus penistaan agama yang dihadapinya, begitu banyak masyarakat yang hadir di pengadilan dan di balaikota, memberikan dukungan kepada Ahok. Rangkaian karangan bunga berisi ucapan dukungan dan dukacita memenuhi halaman balaikota sampai ke area Monas dan sekitarnya. Kepergian Ahok memang membawa rasa kehilangan yang sangat besar bagi sebagian besar warga Jakarta.

Bang Ali dan Ahok adalah sosok gubernur yang akan selalu dikenang berkat kerja nyata mereka yang langsung menyentuh kebutuhan dasar warga Jakarta.

PARPOL di ZAMAN ORDE BARU

Di zaman Orba dulu, PDI (tanpa P) sering menggunakan ibu jari, jari tengah dan kelingking untuk menunjukan angka tiga, nomor peserta PDI dalam pemilu. Cara ini meniru salam anak metal yang berarti I love you. Percaya atau tidak, walaupun PDI selalu berada di urutan ke tiga di bawah Golkar dan PPP, tapi partai ini banyak menarik simpati anak muda penggemar musik rock. Yeah……!

Lain lagi ceritanya dengan Golkar yang selalu mendapat nomor urut dua dalam pemilu. Orang Golkar menyatakan nomor urut partainya dengan jari telunjuk dan jari tengah yang membentuk huruf V. Kita tahu tanda itu juga berarti victory, kemenangan. Golkar memang selalu dimenangkan dalam semua pemilu di zaman Orba.

Kalau PPP, cukup digambarkan dengan satu jari. Partai ini berada di urutan pertama daftar peserta pemilu di zaman Orde Baru, walaupun tak pernah keluar sebagai pemenang pemilu. Soal satu jari itu, terserah yang punya jari mau menggunakan jari yang mana. Pada umumnya menggunakan jari telunjuk, tapi seorang teman pernah juga menggunakan jari tengah dengan punggung tangan menghadap ke depan. Katanya, yang penting jumlahnya satu 🙂

 

Pengayoman, 11 April 2012

PATRICIA PACCININI DAN MAHLUK SUPRANATURAL

Patricia Paccinini

Patricia Paccinini, seniman kontemporer asal Australia, bekerja dengan berbagai media : lukisan, video, suara, digital printing, instalasi dan patung. Karya-karyanya, terutama seni patung, terlihat sangat nyata seolah mahluk dongeng atau mitos yang hadir dalam kehidupan manusia.

Kemarin tanpa sengaja saya menemukan salah satu foto karya patung Paccinini yang mampir di wall saya dengan caption yang bikin merinding : “ini akibatnya kalau sering selingkuh”. Masih ada keterangan lanjutan, seolah mahluk pada foto itu nyata dan kejadiannya di negara tetangga. Tidak lupa pada kolom komentar dipenuhi seruan “subhanallah, masya allah…..!!!!”.

Makin lama makin banyak saja orang-orang bodoh yang dengan mudah dikelabui dengan berita-berita palsu. Sepertinya semua yang dibumbui dalil agama akan dengan mudah ditelan, tanpa dicerna. Subhanallah, masya allah, astaghfirullah………😉

Benar kata Ibnu Rushd :
“Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama”.

 

Tirtayasa, 14 September 2017

PEMUDA

USA di pertengahan 70an, lagi marak-maraknya demonstrasi anti kapitalisme oleh anak-anak muda, sebagian besar mahasiswa yang terpukau paham sosialisme.

 

Satu hari di New York, seorang pemimpin demonstran berulang tahun. Di tengah aksi demontrasi, rekan-rekan seperjuangan menghadiahinya kue tart, bukan untuk dipotong dan dibagikan sebagaimana layaknya sebuah kue ulang tahun. Kue itu dilemparkan ke wajahnya. Dan itulah hari di mana sang pemimpin mengakhiri hari-harinya di jalanan, menyerahkan sepenuhnya tongkat estafet perjuangan kepada rekan-rekannya yang lebih muda. Hari itu dia tepat berulang tahun ke 30, batas usia di mana seseorang dianggap tak lagi layak disebut pemuda, tak lagi layak memimpin gerakan perlawanan di jalanan.

 

Tapi itu dulu, di Amerika pula. Beda zaman beda gaya, lain ladang lain kodoknya. Di negeri ini, seseorang yang sudah uzurpun masih menyebut diri pemuda, lengkap dengan jabatan ketua umum organisasi pemuda anu. Andai Dr. Soetomo masih hidup, akankah dia masih memimpin organisasi pemuda Boedi Oetomo?

 

 

Karet Tengsin, 29 Oktober 2017

ANAK KOMUNIS

Di sebuah kelas di sekolah dasar, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya.

Guru : “Siapa yang membangun Indonesia?”

Murid-murid serentak : “Orde Baru!!”

Guru : “Siapa penjaga persatuan nasional?”

Murid-mirid serentak : “Orde Baru!!”

Guru : “Siapa yang membangun sekolah-sekolah, termasuk sekolah kita?”

Murid-murid serentak dan semakin keras : “Orde Baru!!”

Tampaknya semua murid kompak menjawab dengan lantang. Tapi begitu diperhatikan lebih cermat, ternyata tidak semua murid meneriakkan Orde Baru. Ada seorang murid yang sejak tadi diam saja.

Guru mendatanginya. “Kenapa kamu tidak menjawab seperti teman-temanmu?”
“Sebab saya PKI”, jawab si murid.
“Kenapa kamu PKI?”
“Sebab ayah saya PKI, dan ibu saya juga PKI”, jawab si murid.

Guru itu merasa simpati kepada si murid. Dengan lembut ia berkata “Walaupun orangtuamu keduanya PKI, tapi kamu kan tidak harus menjadi PKI. Kalau ayah dan ibumu pencuri, masak kamu juga mau jadi pencuri”, kata guru.

Si murid menjawab kalem “Kalau orangtua saya pencuri, tentu saya pilih Orde Baru”

 

*) dari buku Humor Politik Indonesia, Felicia NS.

AMIEN RAIS

 

Tahun 2004, euforia reformasi masih kental terasa, peristiwa yang membawa begitu banyak perubahan di negeri ini, termasuk pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden. Menjelang Pemilu di tahun itu, nama Amien Rais masih sangat berkilau. Sebagai lokomotif reformasi – ini julukan yang diberikan media kepadanya dan diaminkan semua pihak – Amien Rais merupakan satu dari sedikit calon presiden yang sangat diperhitungkan. Saya pribadi adalah salah satu pengagum beliau. Bahkan jauh sebelum reformasi, dialah salah satu tokoh utama penentang Suharto, sang penguasa Orde Baru. Rekam-jejaknya terbaca jelas. Ada yang bilang, andai di tahun 1999 Amien Rais bersedia maju sebagai calon presiden, bisa dipastikan dialah yang terpilih dan bukan Abdurrrahman Wahid. Terpukaunya saya itu bukan hanya pada Amien Rais pribadi tapi juga pada partai politik yang dibentuknya, Partai Amanah Nasional, PAN. Buat saya, inilah kesempatan baik bagi bangsa ini untuk memperoleh pemimpin yang benar, dengan gerbong intelektual muslim Muhammadiyah yang dibawanya. Walupun kemudian beliau tidak terpilih, namanya masih tetap diperhitungkan sebagai penjaga arah reformasi. Dalam posisi itu, seyogyanya pak Amien bisa menempatkan diri sebagai tokoh nasional yang berdiri di atas semua golongan. Sayang bahwa pak Amien mengulangi kesalahan banyak tokoh sejarah negeri ini, tetap bermain politik praktis, tetap memperlihatkan syahwat politiknya untuk merebut kekuasaan. Dan hal itu dilakukannya hingga saat ini, di saat usianya memasuki tiga perempat abad. Rasa hormat padanya sedikit demi sedikit tergerus habis, sepak terjangnya sejak Orde Baru hingga masa reformasi seolah tak meninggalkan bekas, berubah menjadi seorang kakek yang menyebalkan. Saya tak tahu, yang mana sesungguhnya Amien Rais : Amien Rais sang penentang Orde Baru dan lokomotif reformasi atau Amien Rais yang menyebalkan saat ini.

 

 

SPA, malam ramadhan ke-14, 2017