Arsip Kategori: Dikarae

penyakit jiwa bernama SOCIAL CLIMBER

Hidup serba berkecukupan merupakan impian besar bagi banyak orang. Hidup berkecukupan namun tidak berlebihan. Sering kali kita terlerlalu berlebihan memamerkan barang-barang mewah yang kita miliki melalui media sosial.

Boleh-boleh saja jika kita memposting barang mewah milik kita di dunia maya atau media sosial. Hal itu merupakan hak setiap individu. Namun perlu diingat jangan sampai kita terkena dan masuk dalam kategori social climber.

Social climber sendiri merupakan orang-orang yang selalu memamerkan barang-barang mewah melalui media sosial. Tujuannya untuk mendapatkan status sosial yang tinggi dari orang lain dan juga agar terlihat bahwa orang tersebut adalah orang yang kaya raya.

Selain itu tujuan lain dari social climber adalah untuk menjadi orang yang terkenal. Banyak hal yang dilakukan oleh social climber seperti bertingkah atau bergaya sangat elegan meskipun itu bukanlah kepribadian asli dari orang tersebut.

Bahkan di saat mereka sedang jalan ke mall dan menemui toilet dengan desain yang mewah, mereka berfoto ria dan berpose seelegan mungkin lalu di-shareke akun media sosial mereka.

Mereka mereka yang terkena social climbermenggunakan barang-barang mewah pada tubuhnya mulai dari baju yang bermerek, tas bermerek, sepatu bermerek sampai aksesoris yang bermerek. Tak perduli barang tersebut asli atau barang KW, yang terpenting bagi mereka adalah tetap eksis dan dipandang oleh banyak orang karena menggunakan barang-barang bermerek yang mampu mengangkat status sosial mereka.

Segala upaya dilakukan oleh social climber untuk memperoleh semua kemewahan tersebut dan dipamerkan melalui media sosial. Namun perlu diketahui bahwa mereka yang terkena social climberbukanlah orang yang kaya raya seperti orang kaya yang sebenarnya.

Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kalangan menengah ke bawah yang ingin diakui status sosialnya serta ingin mencari ketenaran. Segala hal dilakukan oleh social climber untuk dapat memperoleh barang mewah tersebut tanpa melalui proses. Berbeda halnya dengan orang kaya yang memang kaya karena hasil proses yang panjang serta dari hasil usaha dan kerja keras. Namun mereka yang kaya sungguhan tetap rendah hati dan tidak memamerkan barang mewah yang mereka miliki meski mereka sebenarnya bisa melakukan itu semua.

Orang-orang yang masuk dalam kategori social climbermerupakan orang yang sulit untuk berinteraksi dan memperoleh teman, karena gaya serta keinginannya untuk dianggap tinggi status sosialnya membuat ia memilih-milih dalam hal pertemanan. Ia hanya akan berteman dengan orang yang dianggapnya memiliki status sosial yang sama.

Orang yang terkena social climber juga merupakan orang yang tak mau diajak hidup susah akibat dari kemewahan yang selalu membuntutinya. Mereka yang masuk dalam kategori social climber juga merupakan orang yang menutup diri untuk kehidupan dan keseharian asli mereka. Karena pada nyatanya kehidupan asli mereka tak sama dengan kemewahan yang sering kali mereka posting di media sosial.

Orang-orang social climber hanya akan berteman dengan orang yang sedang berada di puncak kejayaan. Jika orang tersebut sedang berada di bawah kejayaan maka mereka akan mencari teman lain yang memiliki visi dan misi yang sama dan satu tujuan dengannya.

Berhati-hatilah terhadap orang yang masuk dalam kategori social climber. mereka memiliki kepribadian yang berbeda antara dunia nyata dan dunia media sosial mereka yang terkesan mewah dan elegan.

Padahal tak perlu menjadi orang lain jika ingin dipandang. Jadilah apa adanya dirimu. Karena tujuanmu hidup bukan untuk mendapatkan pujian dan juga status, melainkan untuk mencari kebahagiaan diri sendiri. Jangan mempersulit diri sendiri untuk mendapat suatu pengakuan dan pujian. Sebab pengakuan dan pujian merupakan penghargaan atas suatu usaha serta proses yang telah kita capai.

Deddy Sinaga
CNN Indonesia, 7 Agustus 2017

EMILY RAE

Kadang kalau perhatikan gaya anak bungsu saya yang perempuan, jadi ingat masa kuliah dulu. Celana jins ketat, yang untuk dipasangkan di kakipun perlu bantuan kantong kresek saking sempitnya, dan sneaker, dulu kami menyebutnya “kets”, mungkin dari merek “keds”, salah satu merek mahal saat ini, ditambah kaos oblong. Bedanya, dulu celana jins saya hanya ada dua, dipakai bergantian sepanjang tahun sampai sobek dan bulukan. Soal sepatu juga, punya saya hanya ada sepasang dan ndak pernah dicuci. Kalaupun sepatunya bau, itu sepenuhnya urusan yang punya hidung. Siapa yang suruh dekat-dekat ke saya. Kalau kaos oblong masih agak mendingan, ada 3-4 lembar yang bisa dipakai bergantian. Oh ya, semua oblong saya berwarna hitam, lengkap dengan hiasan ornamen heavy metal. Itu sebabnya setiap hari kostum saya ke kampus kelihatannya sama. Harap maklum ya.

Nah, beda yang paling menyolok itu anak saya ke mana-mana harum, entah parfum apa yang sering disemprotkan ibunya ke busana yang dia pakai. Kalau saya jaman dulu, pake tawas saja sudah cukup 🤪🤪🤪🤪🤪

 

Karet Tengsin 27 Februari 2018

P U L A N G

9833cd640cce8d7aa8892439848f5899resNet9_n7

Saya selalu ingin pulang ke rumah dan memeluk anak-anak saya, sesuatu yang jarang saya dapatkan dari ayah saya semasa hidupnya. Bisa jadi pernah dilakukannya dulu saat masa kanak-kanak saya, masa-masa yang tak banyak berbekas dalam ingatan. Ayah saya seorang lelaki yang keras hati, seorang politisi yang menghabiskan waktunya untuk partai, sesuatu yang disebutnya “perjuangan”.

Suatu hari seorang paman datang ke rumah kami dan memboyong saya ke rumahnya. Itulah hari pertama saya dari beberapa tahun masa kecil yang saya lewatkan di rumah kerabat, tanpa ayah-ibu. Konon kondisi keluarga kami sedang bagus-bagusnya, dan saya si anak bungsu “diambil” sebagai bentuk perhatian dari kerabat, semacam upaya mempererat tali persaudaraan. Hal yang sama terulang kembali saat usia 9-10 tahun, ketika saya harus belajar membaca Al Qur’an dan terpaksa harus tinggal bersama keluarga dekat ibu saya, seorang imam masjid dan guru mengaji. Ini berlangsung selama 3-4 tahun, sampai tiba saatnya khatam Qur’an, lulus ujian membaca Qur’an sampai surah terakhir secara lancar dan benar. Kedua peristiwa tersebut telah merenggut masa kecil saya, tanpa kenangan apapun bersama keluarga, tanpa ayah-ibu dan kakak-kakak. Masa-masa yang tak begitu menyenangkan.

Saya selalu ingin pulang ke rumah, bercengkarama dan mendengarkan celoteh anak-anak saya. Cerita mereka tentang sekolah, tentang pelajaran dan teman sekelas. Celoteh yang tak pernah terasa membosankan. Saya ingin memberi mereka kenangan masa kanak-kanak yang baik. Suatu saat, mereka akan mengenangnya sebagai masa-masa yang membahagiakan. Sebab hidup yang sebenarnya adalah hidup di masa kanak-kanak. Masa-masa itu menentukan seperti apa hidup seseorang di masa depan.

Saya selalu ingin pulang, sebab rumah, anak-anak dan keluarga adalah tempat terbaik, tempat di mana kita selalu diterima apa adanya. Anak-anak tak pernah mempersoalkan siapa dirimu. Seorang manejer proyek, direktur perusahan besar, seorang engineer yang dibutuhkan di mana-mana, politisi, dokter ataukah seorang kuli bangunan. Anak-anak hanya ingin kita hadir, selalu ada saat mereka butuhkan.

I’m on my way home…….

ruang tunggu bandara halim perdanakusuma, rabu 31 agustus 2016

PUISI-PUISI KAKA

IMG_1756

 

KETAKUTAN

Rasa takut

Engkau selalu menerorku, menguasaiku
Dengan kegelapan, FNAF, dan hantu.

Terkadang kau membantu
Mengingatkanku dengan alarm bahaya

Karenamu….
Ku tak bisa tidur nyenyak
Ku tak bisa bahagia
Ku tak bisa buang air dengan nyaman

Orang dewasa menyeru-nyeru
Agar aku menaklukkanmu
Mustahil bagiku
Aku bagaikan inang bagi benalu ketakutan
Ku mohon berhentilah.

******

 

TIKUS

Kaulah hama yang tak terhancurkan

Jumlahmu ribuan, jutaan, tak terhingga

Tikus…
Kau adalah parasit
Bagi tumbuhan, padi, dan manusia
Ku ingin membunuhmu, menghapusmu
Tapi….Mustahil itu

Tikus….
Biarpun begitu
Kau tetaplah warga Tuhan
dan wajahmu mengingatkanku akan seorang teman.

******

 

BANCI

Banci….

Kau telah terpengaruh LGBT
Kau menipu lelaki
Katanya kau perempuan

Banci….
Kau dilaknat Tuhan
Kau lebih memilih lelaki
Engkau mengira dirimu wanita ?

Ya Tuhan…
Sadarkan mereka
Kembalikan mereka ke fitrohnya.

******

diambil dari akun facebook nazwar takhesi, guru kelas 5 sdn komp ikip i makassar

halimperdanakusuma, 8 april 2016

 

PUISI DIKARA

IMG_9752

Anak laki-lakiku, Dikara Kahlil Satriani, siswa kelas 5 Sekolah Dasar di Makassar, mendapat tugas dari gurunya membuat puisi tentang ibu dan ayah. Dia menuliskannya begini :

Ibu & Ayah

Ibu,
Terima kasih untuk semuanya
Engkau telah menjadi bulan untukku
Tapi walaupun engkau selalu berubah-ubah
Engkau selalu ada

Ayah,
Terima kasih untuk nasehatnya
Kehebatanmu telah menjadikanmu sang kejora
Yang selalu dipuji karena cahayanya

Ayah ibu,
Kalian adalah air dan tanah
Yang merupakan sumber kehidupan
Tapi semua memiliki batas
Aku berharap kalian bisa bersamaku selamanya

******

Saya membacanya berkali-kali, dan terpesona menemukan pemahamannya tentang kesementaraan hidup manusia pada bait ketiga. Dia sadar, kami takkan selamanya berada bersamanya.