A P P A N G

Posted by

Ini mi satu-satunya senior saya yang paling suka marah-marah. Anehnya, kalau ndak ada dia banyak yang suka bertanya, “mana kak appang?”. Rumahnya di Jalan Kumala Makassar sering menjadi stanplat mahasiswa Teknik Unhas saat kuliah dulu. Maksudnya tempat nongkrong sehabis kuliah, sekaligus buat makan siang gratis.

Waktu pertama kali bertugas di Ambon pertengahan tahun 1997, ndak ada tujuan lain selain rumah kak Appang. Dia kebetulan lebih dulu tiba di sana, bersama beberapa senior lain membuat usaha konsultan. Saya tinggal di rumah kontrakannya kurang lebih setahun. Dan sepanjang tahun itu, ndak terhitung berapa kali saya kerjai dia.

Ada dua hal yang tidak bisa dilakukan kak Appang. Pertama, dia ndak bisa bawa motor (kendarai sepeda motor). Ini sudah lama jadi bahan ledekan sejak kami masih mahasiswa di Tamalanrea Makassar. Kedua, dia ndak bisa (lebih tepatnya tidak suka) cium bau anyir ikan. Sialnya, di Ambon itu bisa dikatakan gudangnya ikan segar. Beberapa kali saya sengaja bawa pulang ikan ke rumah, yang oleh Lina isterinya kak Appang, ikan itu dibakar atau digoreng kemudian disajikan di atas meja makan. Kalau sudah begini, kak Appang dengan berat hati harus menyingkir jauh dari meja makan. Jadilah saya dan isterinya menikmati sajian ikan, sambil senyum-senyum melihat ke arah yang punya rumah.

Sekali waktu saya dan kak Appang melakukan perjalan laut ke Desa Sawai di pantai utara Pulau Seram Maluku Tengah untuk keperluan survey. Seorang pemilik modal di Ambon saat itu memberi order untuk mendisain resor terapung di desa itu. Saat itu Desa Sawai benar-benar daerah yang sangat terpencil. Berada di sana seolah terputus dari peradaban, tanpa sambungan listrik dan telepon, apatah lagi saluran televisi dan telpon seluler. Tak ada toko atau pasar yang menjual bahan makanan. Beruntunglah, keaslian desa yang belum tercemar itu membuat kita bisa dengan mudah memperoleh ikan segar dari hasil pancing. Kak Appang yang tak suka ikan, rupanya telah membekali diri dengan rendang kaleng siap saji. Bertahun-tahun kemudian saya menemukan secara tak sengaja sebuah link di google tentang sebuah resor cantik di pantai utara Pulau Seram, Ora Beach Resort. Alhamdulillah, resor ini menjadi terkenal dan sering dikunjungi turis-turis asing.

Saat terjadi ribut-ribut di Ambon tahun 1999, kami berdua ada di sana. Anak sulung kak Appang, sekarang sudah menjadi brondong ganteng dan mahasiswa fakultas ekonomi, lahir kurang lebih seminggu sebelum kejadian huru-hara itu. Saya kira kak Appang akan beri nama anaknya “ribut perkasa” atau “lelaki huruhara”, ternyata dia beri nama Pilar. Mungkin karena sebagai arsitek sering berurusan dengan disain rumah gaya spanyolan yang banyak menggunakan kolom/pilar. Wallahualam. Saya pernah bertanya tentang nama Pilar ini, tapi kak Appang tak pernah mau menjelaskannya. Jadi mohon jangan marah ya kak Appang, kalau saya punya prasangka soal rumah spanyolan itu.

Di tahun itu juga, kami berdua yang tak pernah paham duduk soal sebenarnya penyebab huru-hara tersebut, memutuskan untuk kembali ke Makassar. Dengan menumpang kapal Pelni, tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang dikenakan, kami tiba dengan selamat sentosa di Pelabuhan Makassar. Sungguh hari-hari yang menegangkan bila mendengar bunyi tiang listrik diketok, suara azan bersahut-sahutan atau lonceng gereja yang berdentang berkali-kali. Percayalah, itu pertanda akan ada serangan dari salah satu “peserta perang tanding”.

Sejak eksodus dari Ambon, kak Appang kembali ke kampung halamannya  di Bantaeng dan membangun usahanya di sana. Kalau anda kebetulan melintas di Bantaeng, dalam perjalanan ke Bulukumba atau Selayar, jangan lupa mampir sejenak melepas lelah di Cafe Balingbaling. Itu cafe milik kak Appang.

Sejak kak Appang pindah ke Bantaeng, kami jadi jarang ketemu. Saya, yang oleh tuntutan pekerjaan harus mengembara ke mana-mana di luar Makassar, kadang hanya ketemu kak Appang pada saat acara reuni tahunan Alumni Teknik Unhas, atau menyapanya di media sosial. Mendapat kabar kak Appang sakit, sungguh sesuatu yang membuat saya sedih dan ikut prihatin. Apalagi tidak banyak yang bisa saya lakukan selain ikut berdoa, semoga dia segera diberi kesembuhan. Senang rasanya melihat postingan kak Appang di fesbuk hari ini, bahwa kondisinya sudah lebih baik, sudah dibolehkan pulang dan cukup hanya rawat jalan.

Cepat pulih senior, kalau tidak saya akan repot menjawab banyak pertanyaan dari yuniormu, “mana kak appang?”. Awwah, semangat ko kakak……

CL Palu, 15 November 2019

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *