K A K A K

Posted by

Saat masih di sekolah dasar, saya sering mendengar cerita bahwa ayah saya punya seorang isteri “noni belanda” – ini sebutan untuk seorang wanita keturunan Eropa atau indo – dan punya seorang anak laki-laki yang saya perkirakan berusia dua-tiga tahun di atas saya. Walaupun saya sendiri tidak pernah ketemu langsung, tapi dalam hati saya yakin akan keberadaannya. Konon ibu kedua saya itu seorang Kristen yang taat. Demikian juga adanya kakak laki-laki saya tersebut. Selain isteri noni Belanda tadi, masih ada isteri lain dari ayah saya, seorang wanita Sunda dari Sukabumi. Tapi hanya sebatas itu informasi yang saya dengar di masa kanak-kanak. Cerita tentang dua isteri ayah saya tersebut perlahan redup seiring wafatnya ayah saya di pertengahan tahun 90an. Sebagai anak bungsu dari isteri pertama ayah, saya ndak terlalu persoalkan adanya kedua ibu tiri saya itu. Seperti itulah seorang lelaki Bugis jaman dulu, bisa beristeri di manapun dia berlabuh.

Ada semacam keinginan yang begitu besar di dalam diri saya untuk sekali waktu dipertemukan dengan kakak saya dari lain ibu tersebut. Seperti apa dia? Bagaimana dia menjalani hidupnya? Pikiran tentang kakak saya itu makin sering muncul dengan banyaknya kasus-kasus berlatar-belakang sara di tengah masyarakat akhir-akhir ini. Kadang saya sempatkan diri mendoakannya, semoga dia baik-baik saja. Bila dia berada dalam sebuah lingkungan sebagai minoritas, semoga tak ada gangguan apapun yang dia alami. Saya ingin ada di sana, membelanya semampu yang bisa saya lakukan.

Tondo, 19 September 2019

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *