AKAL SEHAT dan pilihan politik

Tidak masalah anda mau pilih paslon yang mana dalam pilpres nanti, itu sepenuhnya hak pribadi yang dijamin undang-undang. Tidak masalah juga bagi saya kalau pilihanmu semata didasarkan pada pertimbangan emisional dan bukan karena ukuran-ukuran yang sifatnya rasional sebagaimana layaknya orang yang terdidik. Itu juga sepenuhnya hak pribadi, sebab menjadi bodoh itu juga sebuah pilihan, walalupun aneh saja seorang insinyur misalnya lebih menggunakan dengkulnya ketimbang akal sehatnya. Silahkan aja. Yang jadi masalah adalah ketika kebodohan itu dipamer-pamer tanpa rasa malu di media sosial.

Ndak paham soal investasi tapi gatal bicara panjang lebar tentang divestasi Freeport Indonesia. Ndak paham apapun tentang studi wilayah tapi sok tahu tentang pengembangan infrasturktur. Ngajinyapun belum tamat iqro 2 tapi seolah-seolah lebih hebat dari ulama. Makin kelihatan koplaknya ketika share berita dan informasi, link yang dibagikan adalah portal pribadi yang meniru-niru nama media mainstream seperti Channel Asia, Tempo dll., bahkan dari blog gratisan seperti blogspot.com. Lebih konyol lagi ada yang memodifikasi halaman depan sebuah media nasional dan ditambahkan text seenak perutnya, seolah kita gampang dikibuli.

Saya ndak punya urusan dan ndak pernah berniat mengajakmu untuk merobah pilihan. Jumlah kalian sungguh tidak berarti, dan tidak kami butuhkan. Maaf. Tetaplah kau di sana, istiqomah dengan pilihanmu. Saya hanya berharap, sedikit lebih cerdaslah dalam mengungkapkan pendapat dan berargumen. Pakailah data-data yang valid, dari sumber yang bisa dipertanggung-jawabkan. Jangan permalukan dirimu. Jangan membuat kuliah yang sudah kau lewati 5-6 tahun dulu itu menjadi tidak berarti.

Wailela Ambon, 17 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *