P A G E R


Dulu saat hape masih jadi barang langka dan mahal, komunikasi dilakukan dengan telpon umum dan pager : pesan disampaikan dengan telpon umum ke operator pager, kemudian diteruskan ke pengguna pager. Kadang masih bisa kita saksikan di film-film lama tahun 90an, seseorang membaca pesan di pager kemudian buru-buru mencari telpon umum untuk menghubungi pengirim pesan. Saat itu pager adalah gadget andalan, menjadi semacam status symbol bagi orang-orang sibuk : eksekutif muda, pengusaha, tenaga profesional yang lebih banyak beraktifitas di luar kantor. Saking populernya, sampai-sampai sebuah grup musik hiphop bahkan membuat lagu tentang penggunaan pager. Boss saya saat itu, pimpinan perusahaan konsultan nasional, mewajibkan semua engineer-nya berpakaian rapi dan berdasi, lengkap dengan sebuah pager. Image perusahaan harus terjaga, salah satunya dari penampilan para engineer-nya.
Memasuki pertengahan 90an, perlahan pager mulai tergeser oleh telpon seluler alias handphone alias hape. Dalam segala hal, hape jelas lebih praktis walaupun belum bisa dikatakan lebih murah. Satu persatu operator pager berguguran ditinggalkan pelanggannya. Pager kemudian benar-benar menemui ajalnya pada saat operator telpon seluler mengeluarkan kartu pra-bayar, jenis kartu yang memudahkan siapapun dapat memiliki nomor pribadi tanpa persyaratan yang rumit.

Makassar, 28 Desember 2013


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *