BANG ALI dan AHOK

Karangan Bunga di Balaikota DKI


Ali Sadikin atau biasa disapa Bang Ali, Gubernur Jakarta dua periode, hingga sekarang dianggap sebagai gubernur paling legendaris di Jakarta. Dia dianggap sebagai sosok yang paling berhasil memoles ibukota dari sebuah kota kumuh menjadi metropolitan. Kinerja setiap gubernur Jakarta selalu akan dibandingkan dengan Ali Sadikin. Karena prestasinya membangun Jakarta, rakyat seolah tak rela melepasnya. Di bulan Juli 1977 ketika akan meninggalkan Balaikota Jakarta setelah menyelesaikan masa jabatan kedua, ribuan orang berkumpul di halaman Balaikota, merangsek dan berteriak-teriak. Ada yang berteriak, “Hidup Bang Ali, Bang Ali tokoh pembangunan.” Bahkan yang membuat Bang Ali kaget, ada yang membawa spanduk bertuliskan, “Bang Ali calon presiden kita.” Itu sebuah seruan yang sungguh berbahaya di masa Orde Baru.

Dari ribuan orang yang datang, banyak di antaranya ibu-ibu yang meraung sedih. Bang Ali tak menyangka, warga akan melepasnya sedemikian rupa. Yang pasti, kisah Bang Ali itu bukti bahwa pemimpin yang bekerja nyata akan dicintai warga. Ketika selesai bertugas, banyak yang tak rela pemimpin tersebut pensiun.

Saya melihat fenomena Bang Ali itu juga terjadi pada Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Di saat-saat terakhir menjelang keputusan pengadilan untuk kasus penistaan agama yang dihadapinya, begitu banyak masyarakat yang hadir di pengadilan dan di balaikota, memberikan dukungan kepada Ahok. Rangkaian karangan bunga berisi ucapan dukungan dan dukacita memenuhi halaman balaikota sampai ke area Monas dan sekitarnya. Kepergian Ahok memang membawa rasa kehilangan yang sangat besar bagi sebagian besar warga Jakarta.

Bang Ali dan Ahok adalah sosok gubernur yang akan selalu dikenang berkat kerja nyata mereka yang langsung menyentuh kebutuhan dasar warga Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *