PARPOL di ZAMAN ORDE BARU

Di zaman Orba dulu, PDI (tanpa P) sering menggunakan ibu jari, jari tengah dan kelingking untuk menunjukan angka tiga, nomor peserta PDI dalam pemilu. Cara ini meniru salam anak metal yang berarti I love you. Percaya atau tidak, walaupun PDI selalu berada di urutan ke tiga di bawah Golkar dan PPP, tapi partai ini banyak menarik simpati anak muda penggemar musik rock. Yeah……!

Lain lagi ceritanya dengan Golkar yang selalu mendapat nomor urut dua dalam pemilu. Orang Golkar menyatakan nomor urut partainya dengan jari telunjuk dan jari tengah yang membentuk huruf V. Kita tahu tanda itu juga berarti victory, kemenangan. Golkar memang selalu dimenangkan dalam semua pemilu di zaman Orba.

Kalau PPP, cukup digambarkan dengan satu jari. Partai ini berada di urutan pertama daftar peserta pemilu di zaman Orde Baru, walaupun tak pernah keluar sebagai pemenang pemilu. Soal satu jari itu, terserah yang punya jari mau menggunakan jari yang mana. Pada umumnya menggunakan jari telunjuk, tapi seorang teman pernah juga menggunakan jari tengah dengan punggung tangan menghadap ke depan. Katanya, yang penting jumlahnya satu 🙂

 

Pengayoman, 11 April 2012

SUBHANALLAH dan MASYA ALLAH

 

Kata Subhanallah, atau Subhan Allah dalam frasa bahasa Arab, sering diterjemahkan sebagai Maha Suci Allah. Subhanallah juga merupakan kalimat tasbih, pujian pada Allah. Subhanallah wa bihamdih. Subhanallah secara harfiah berarti “Tuhan tidak tercampuri (dari segala kebathilan)”. Itu sebabnya subhanallah diucapkan saat mendengar atau melihat hal-hal buruk. Maha suci Allah dari segala yang tak pantas (QS. Al-Baqarah : 116).

Berbeda dengan kata Masya Allah yang secara ringkas dapat diartikan sebagai “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Kata “telah” menekankan tentang doktrin Islam yang percaya pada taqdir. Kata Masya Allah diucapkan sebagai ungkapan kegembiraan disertai doa. Maka ketika melihat hal yang menakjubkan, ucapkanlah Masya Allah. Artinya kita menyadari dan menetapkan bahwa hal yang menakjubkan tersebut semata-mata terjadi karena kuasa Allah (QS. Al-Kahfi : 39).

Dua kata ini, Subhanallah dan Masya Allah, sering dikacaukan penempatannya. Bahkan ada kecenderungan untuk menggunakan kata Subahanallah dalam semua situasi dan melupakan penggunaan kata Masya Allah. Anehnya, kekacauan ini justeru sering terjadi di situs-situs yang mengusung nama Islam.

Saat lihat berita teroris di tivi terus mengucap Subhanallah. Ini sudah benar. Tapi nonton infotainmen dan lihat artis cantik juga kau seru Subahanallah. Eh, macam mana kau ini……..

 

Karet Tengsin, 3 Ramadhan 1439 H