PEMUDA

USA di pertengahan 70an, lagi marak-maraknya demonstrasi anti kapitalisme oleh anak-anak muda, sebagian besar mahasiswa yang terpukau paham sosialisme.

 

Satu hari di New York, seorang pemimpin demonstran berulang tahun. Di tengah aksi demontrasi, rekan-rekan seperjuangan menghadiahinya kue tart, bukan untuk dipotong dan dibagikan sebagaimana layaknya sebuah kue ulang tahun. Kue itu dilemparkan ke wajahnya. Dan itulah hari di mana sang pemimpin mengakhiri hari-harinya di jalanan, menyerahkan sepenuhnya tongkat estafet perjuangan kepada rekan-rekannya yang lebih muda. Hari itu dia tepat berulang tahun ke 30, batas usia di mana seseorang dianggap tak lagi layak disebut pemuda, tak lagi layak memimpin gerakan perlawanan di jalanan.

 

Tapi itu dulu, di Amerika pula. Beda zaman beda gaya, lain ladang lain kodoknya. Di negeri ini, seseorang yang sudah uzurpun masih menyebut diri pemuda, lengkap dengan jabatan ketua umum organisasi pemuda anu. Andai Dr. Soetomo masih hidup, akankah dia masih memimpin organisasi pemuda Boedi Oetomo?

 

 

Karet Tengsin, 29 Oktober 2017