Rohingya

Posted by

Benar, pada kebiadaban pemerintahan Myanmar memberangus etnik Rohingya, segenap tindakan protes mesti kita sampaikan. Jika dirasa tak cukup dengan sekedar protes, alamatkan pula makian atau sumpah serapah. Kalau perlu yang paling kasar sekalipun.

Anda berhak geram, atau marah. Dan kegeraman atau kemarahan itu sesuatu yang lumrah, sebab itu tandanya insting kemanusiaan kita masih hidup. Segenap perasaan empati yang secara spontan timbul ketika ketidakadilan terjadi, kita turut berbelasa rasa tanpa diminta dan dipaksa.

Itu tandanya, kita pun manusia. Sama seperti mereka, warga etnik rohingya.

Tapi ketika kemarahan kita itu justru dipantik karena rezim Myanmar itu beragama tertentu, lalu serta merta menggeneralisasinya dengan menyudutkan agama tertentu, maka sepertinya ada yang keliru dengan sikap kita itu.

Anda mungkin ingat dengan Jenderal Idi Amin, diktator bengis dari Uganda. Anda ingat dengan kekejaman Stalin atau Hitler, atau kebiadaban Abu Bakar Al-Baghdadi.

Dari deretan nama-nama Diktator itu, yang kemungkinan daftarnya masih akan bertambah panjang, kita semestinya paham bahwa kebiadaban, kebengisan, dan tindak kekejaman lainnya, bisa hinggap kepada siapa saja dengan apapun keyakinan yang diimaninya.

Karena itu, tindakan brutal tidak sepantasnya digeneralisasi lalu dialamatkan pada keyakinan tertentu karena kebetulan pelaku kekejaman itu beragama yang sama. Yang kemudian berujung pada respon protes yang justru mengutuki agamanya.

Itu jelas keliru. Di muka bumi, tidak ada satupun keyakinan yang menganjurkan atau membenarkan kekejaman dan tindak kekerasan. Tidak ada satu pun.

Agama, jika benar adalah sebagai jalan keselamatan, pasti membawa kedamaian. Dan karena itu, ia selalu menghadirkan tempat bagi keyakinan yang berbeda. Dari sanalah bermula kehidupan yang lebih baik untuk siapa saja, damai, dan berdampingan.

Maka sikap kita untuk Rohingya adalah kemarahan yang dibangun oleh empati kemanusian. Dan atas nama kemanusiaan, anda tidak butuh alasan ideologis atau kesamaan keyakinan bahwa penindasan dan kekejaman harus dilawan.

 

Jogjakarta, 2 September dini hari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *