ANAK KOMUNIS

Di sebuah kelas di sekolah dasar, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya.

Guru : “Siapa yang membangun Indonesia?”

Murid-murid serentak : “Orde Baru!!”

Guru : “Siapa penjaga persatuan nasional?”

Murid-mirid serentak : “Orde Baru!!”

Guru : “Siapa yang membangun sekolah-sekolah, termasuk sekolah kita?”

Murid-murid serentak dan semakin keras : “Orde Baru!!”

Tampaknya semua murid kompak menjawab dengan lantang. Tapi begitu diperhatikan lebih cermat, ternyata tidak semua murid meneriakkan Orde Baru. Ada seorang murid yang sejak tadi diam saja.

Guru mendatanginya. “Kenapa kamu tidak menjawab seperti teman-temanmu?”
“Sebab saya PKI”, jawab si murid.
“Kenapa kamu PKI?”
“Sebab ayah saya PKI, dan ibu saya juga PKI”, jawab si murid.

Guru itu merasa simpati kepada si murid. Dengan lembut ia berkata “Walaupun orangtuamu keduanya PKI, tapi kamu kan tidak harus menjadi PKI. Kalau ayah dan ibumu pencuri, masak kamu juga mau jadi pencuri”, kata guru.

Si murid menjawab kalem “Kalau orangtua saya pencuri, tentu saya pilih Orde Baru”

 

*) dari buku Humor Politik Indonesia, Felicia NS.

PUNK ROCK STYLE alias MULLET

Tiap masa punya gaya. Begitulah, di tahun 80an ada gaya rambut anak muda yang sangat khas, punk rock style : bagian depan dipangkas rapi dan kadang berjambul, bagian belakang dibiarkan memanjang. Gaya ini memang identik dengan mewabahnya musik new wave, turunan punk rock yang dipelopori oleh kelompok musik Duran Duran, band dari Birmingham Inggris. Bagian belakang yang panjang itu bisa dibiarkan tergerai atau dikuncir seperti rambut orang Indian. Ada juga yang bilang model rambut Mullet. Kalau anda penggemar film action, pasti pernah menonton salah satu film Van Damme. Nah gaya rambut Van Damme itu bisa jadi contoh seperti apa punk rock style atau mullet itu. Gaya ini perlahan memudar dengan sendirinya di akhir 80an, seiring dengan meredupnya Duran Duran dan New Wave. Anak-anak muda seolah kembali ke era 70an dengan rambut gondrong ala bintang Rock/Heavy Metal.

 

 

Ada cerita lucu tentang rambut punk rock itu. Sekali waktu kami, saya dan beberapa orang teman, harus berurusan dengan aparat Kodim Makassar karena perselisihan dengan anggota Resimen Mahasiswa Kopertis di Makassar. Seorang teman yang ikut dibawa ke Kodim kebetulan berkuncir cukup panjang. Oleh tentara, kuncir itu dipotong dengan sangkur sambil bilang : “Ini rambut duran-duran, harus dipotong. Mahasiswa harus rapi..!!”

Alamaaak……😀

 

karet tengsin 14 september 2017

 

 

Rohingya

Benar, pada kebiadaban pemerintahan Myanmar memberangus etnik Rohingya, segenap tindakan protes mesti kita sampaikan. Jika dirasa tak cukup dengan sekedar protes, alamatkan pula makian atau sumpah serapah. Kalau perlu yang paling kasar sekalipun.

Anda berhak geram, atau marah. Dan kegeraman atau kemarahan itu sesuatu yang lumrah, sebab itu tandanya insting kemanusiaan kita masih hidup. Segenap perasaan empati yang secara spontan timbul ketika ketidakadilan terjadi, kita turut berbelasa rasa tanpa diminta dan dipaksa.

Itu tandanya, kita pun manusia. Sama seperti mereka, warga etnik rohingya.

Tapi ketika kemarahan kita itu justru dipantik karena rezim Myanmar itu beragama tertentu, lalu serta merta menggeneralisasinya dengan menyudutkan agama tertentu, maka sepertinya ada yang keliru dengan sikap kita itu.

Anda mungkin ingat dengan Jenderal Idi Amin, diktator bengis dari Uganda. Anda ingat dengan kekejaman Stalin atau Hitler, atau kebiadaban Abu Bakar Al-Baghdadi.

Dari deretan nama-nama Diktator itu, yang kemungkinan daftarnya masih akan bertambah panjang, kita semestinya paham bahwa kebiadaban, kebengisan, dan tindak kekejaman lainnya, bisa hinggap kepada siapa saja dengan apapun keyakinan yang diimaninya.

Karena itu, tindakan brutal tidak sepantasnya digeneralisasi lalu dialamatkan pada keyakinan tertentu karena kebetulan pelaku kekejaman itu beragama yang sama. Yang kemudian berujung pada respon protes yang justru mengutuki agamanya.

Itu jelas keliru. Di muka bumi, tidak ada satupun keyakinan yang menganjurkan atau membenarkan kekejaman dan tindak kekerasan. Tidak ada satu pun.

Agama, jika benar adalah sebagai jalan keselamatan, pasti membawa kedamaian. Dan karena itu, ia selalu menghadirkan tempat bagi keyakinan yang berbeda. Dari sanalah bermula kehidupan yang lebih baik untuk siapa saja, damai, dan berdampingan.

Maka sikap kita untuk Rohingya adalah kemarahan yang dibangun oleh empati kemanusian. Dan atas nama kemanusiaan, anda tidak butuh alasan ideologis atau kesamaan keyakinan bahwa penindasan dan kekejaman harus dilawan.

 

Jogjakarta, 2 September dini hari.