AMIEN RAIS

Posted by

 

Tahun 2004, euforia reformasi masih kental terasa, peristiwa yang membawa begitu banyak perubahan di negeri ini, termasuk pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden. Menjelang Pemilu di tahun itu, nama Amien Rais masih sangat berkilau. Sebagai lokomotif reformasi – ini julukan yang diberikan media kepadanya dan diaminkan semua pihak – Amien Rais merupakan satu dari sedikit calon presiden yang sangat diperhitungkan. Saya pribadi adalah salah satu pengagum beliau. Bahkan jauh sebelum reformasi, dialah salah satu tokoh utama penentang Suharto, sang penguasa Orde Baru. Rekam-jejaknya terbaca jelas. Ada yang bilang, andai di tahun 1999 Amien Rais bersedia maju sebagai calon presiden, bisa dipastikan dialah yang terpilih dan bukan Abdurrrahman Wahid. Terpukaunya saya itu bukan hanya pada Amien Rais pribadi tapi juga pada partai politik yang dibentuknya, Partai Amanah Nasional, PAN. Buat saya, inilah kesempatan baik bagi bangsa ini untuk memperoleh pemimpin yang benar, dengan gerbong intelektual muslim Muhammadiyah yang dibawanya. Walupun kemudian beliau tidak terpilih, namanya masih tetap diperhitungkan sebagai penjaga arah reformasi. Dalam posisi itu, seyogyanya pak Amien bisa menempatkan diri sebagai tokoh nasional yang berdiri di atas semua golongan. Sayang bahwa pak Amien mengulangi kesalahan banyak tokoh sejarah negeri ini, tetap bermain politik praktis, tetap memperlihatkan syahwat politiknya untuk merebut kekuasaan. Dan hal itu dilakukannya hingga saat ini, di saat usianya memasuki tiga perempat abad. Rasa hormat padanya sedikit demi sedikit tergerus habis, sepak terjangnya sejak Orde Baru hingga masa reformasi seolah tak meninggalkan bekas, berubah menjadi seorang kakek yang menyebalkan. Saya tak tahu, yang mana sesungguhnya Amien Rais : Amien Rais sang penentang Orde Baru dan lokomotif reformasi atau Amien Rais yang menyebalkan saat ini.

 

 

SPA, malam ramadhan ke-14, 2017

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *