NOKTAH KECIL DI ALAM SEMESTA BERNAMA BUMI

Dari jarak sejauh ini, Bumi tampak tidak penting. Namun bagi kita, lain lagi ceritanya. Renungkan lagi titik itu. Itulah tempatnya. Itulah rumah. Itulah kita. Di atasnya, semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu ketahui, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka. Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang merasa benar, setiap pemburu dan pengumpul, setiap pahlawan dan pengecut, setiap perintis dan pemusnah peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu, ayah, dan anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan petualang, setiap pengajar kebaikan, setiap politisi rakus, setiap “bintang”, setiap “pemimpin besar”, setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah umat manusia, hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.

 

 

Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya jagat raya. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan penguasa sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa yang fana di sepotong kecil titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa kejam mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa dalam kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

 

Bumi adalah satu-satunya dunia yang sejauh ini diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya untuk sementara, yang bisa menjadi penyelamat spesies kita. Kunjungi? Ya. Menetap? Belum saatnya. Suka atau tidak, untuk saat ini Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup. Sering dikatakan bahwa astronomi adalah suatu hal yang merendahkan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang dapat menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citra dunia kita yang mungil ini. Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenali bersama.

 

 

—Carl Sagan (1934-1996)

AMIEN RAIS

 

Tahun 2004, euforia reformasi masih kental terasa, peristiwa yang membawa begitu banyak perubahan di negeri ini, termasuk pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden. Menjelang Pemilu di tahun itu, nama Amien Rais masih sangat berkilau. Sebagai lokomotif reformasi – ini julukan yang diberikan media kepadanya dan diaminkan semua pihak – Amien Rais merupakan satu dari sedikit calon presiden yang sangat diperhitungkan. Saya pribadi adalah salah satu pengagum beliau. Bahkan jauh sebelum reformasi, dialah salah satu tokoh utama penentang Suharto, sang penguasa Orde Baru. Rekam-jejaknya terbaca jelas. Ada yang bilang, andai di tahun 1999 Amien Rais bersedia maju sebagai calon presiden, bisa dipastikan dialah yang terpilih dan bukan Abdurrrahman Wahid. Terpukaunya saya itu bukan hanya pada Amien Rais pribadi tapi juga pada partai politik yang dibentuknya, Partai Amanah Nasional, PAN. Buat saya, inilah kesempatan baik bagi bangsa ini untuk memperoleh pemimpin yang benar, dengan gerbong intelektual muslim Muhammadiyah yang dibawanya. Walupun kemudian beliau tidak terpilih, namanya masih tetap diperhitungkan sebagai penjaga arah reformasi. Dalam posisi itu, seyogyanya pak Amien bisa menempatkan diri sebagai tokoh nasional yang berdiri di atas semua golongan. Sayang bahwa pak Amien mengulangi kesalahan banyak tokoh sejarah negeri ini, tetap bermain politik praktis, tetap memperlihatkan syahwat politiknya untuk merebut kekuasaan. Dan hal itu dilakukannya hingga saat ini, di saat usianya memasuki tiga perempat abad. Rasa hormat padanya sedikit demi sedikit tergerus habis, sepak terjangnya sejak Orde Baru hingga masa reformasi seolah tak meninggalkan bekas, berubah menjadi seorang kakek yang menyebalkan. Saya tak tahu, yang mana sesungguhnya Amien Rais : Amien Rais sang penentang Orde Baru dan lokomotif reformasi atau Amien Rais yang menyebalkan saat ini.

 

 

SPA, malam ramadhan ke-14, 2017