MY GUITAR WANTS TO KILL YOUR MAMA

 

 

frank_zappa3

 

Lagu ini selalu mengingatkan saya pada Frank Vincent Zappa; seorang komposer,  gitaris, penyanyi, sutradara film dan satiris dari Amerika Serikat. Meninggal pada usia 52 tahun di tahun 1993, Frank Zappa menghasilkan lebih dari 60 album.

zappa

Lagu ini memang diciptakan Frank Zappa. Pertama kali direkam sebagai sebuah singel pada tahun 1969 oleh The Mother of Invention, sebuah band rock yang kemudian menjadi band pengiring Frank Zappa dalam banyak album yang diproduksinya. Frank Zappa sendiri baru merekam “My Guitar” sepuluh tahun kemudian, 1979, dalam album Joe’s Garage.

Ada dua versi lagi dari lagu yang sama. Dweezil Zappa (anak Frank Zappa) merekamnya pada tahun 1988 sebagai perhormatandan kepada sang ayah, dan sebuah versi a cappala juga untuk sebuah tribute album “Frankly A Cappela”.

Saya sendiri lebih menyukai versi G3 di atas, sebuah grup yang terdiri dari tiga orang gitaris, Joe Satriani, Steve Vai dan Eric Johnson, yang direkam dalam tour mereka di tahun 1996. Lebih garang, lebih ngerock. Tentu saja, ada tiga gitar yang meraung-raung di sana.

Lingkas, 25 Oktober 2016

NKRI KARTU MATI

Tetangga saya dulu di daerah Jagakarsa Jakarta Selatan, seorang Batak dari Sipirok Sumatera Utara. Suatu hari dia berbincang dengan tetangga saya yang lain asal Bolaang Mangondow Sulawesi Utara.

“Lae, di mana kampung kau di Manado?” Tanya Ucok dari Sipirok. Dia menyebut Manado menggantikan Sulawesi Utara.

“Kita dari Bolaang Mangondow, Ucok” Jawab Bram si orang Bolmong.

“Eh, di mananya Parepare itu Bolaang Mangondow?”

Sepintas saja kita akan senyum-senyum mendengar percakapan dua orang beda suku di atas.

Lain lagi pertanyaan teman sekantor di Jakarta. Ketika saya bertugas di Ternate Maluku Utara, pertanyaan yang selalu muncul adalah “Bisa naik mobil dari Ambon ke Ternate? Berapa jam perjalanan darat?”

Saat ini ketika saya mendapat tugas baru di Kalimantan Utara, karena satu dan lain hal, memaksa saya harus membuka kantor di Kota Tarakan dan bukan di ibukota provinsi Tanjung Selor. Pertanyaannya masih sama : “Berapa jam perjalanan dengan mobil dari Balikpapan ke Tarakan?”

Sejak kecil saya terbiasa membuka peta, mencoba memahami posisi geografis Indonesia, mencari letak kota-kota, setidaknya ibukota dari setiap provinsi, dan melihat betapa luasnya wilayah negeri ini. Agak aneh buat saya, seseorang masih tidak paham bahwa Kota Ambon dan Kota Ternate itu terletak di pulau yang berbeda, dengan jarak ribuan mil laut. Tarakan itu nama sebuah pulau, yang terpisah dari pulau besar Kalimantan, sehingga mustahil melakukan perjalan darat dari Balikpapan langsung menuju ke Kota Tarakan. Adapun Bolaang Mangondow itu terletak di Sulawesi Utara, lebih seribu kilometer jaraknya dari Parepare di Sulawesi Selatan. Tentunya pengetahuan geografis yang sederhana seperti ini telah dipelajari sejak di sekolah dasar dan sekolah menengah.

Pernahkah anda nonton film Denias, Senandung di Atas Awan? Film yang dibintangi pasangan suami-isteri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen ini berceritera tentang perjuangan Denias, anak di pedalaman Papua, untuk bisa diterima di sekolah dasar di ibukota kabupaten. Ada sebuah adegan di mana Denias bertanya pada seorang tentara yang bertugas di sana “seperti apa Indonesia?” Sang tentara hanya membuat duplikasi peta kepulauan Indonesia menggunakan sabut kelapa. Dan itulah cara paling sederhana dan mudah untuk dipahami. Sebuah peta. Maka, sesekali bukalah google map di smartphone anda, tatap dan kenali negeri yang selalu anda puja dan banggakan itu di sana, agar tidak akan pernah lagi anda lontarkan pertanyaan bodoh dan menggelikan tentang letak sebuah kota atau pulau di Indonesia.

Percuma saja anda selalu bilang “NKRI harga mati”, tanpa pernah benar-benar mengenal dan memahami posisi geografis Indonesia. Kalau letak sebuah ibukota provinsi pun tak mampu anda kenali, lebih pas kalau anda bilang “NKRI kartu mati”.

😄😄
Panaikang, 03 Oktober 2016