P U L A N G

9833cd640cce8d7aa8892439848f5899resNet9_n7

Saya selalu ingin pulang ke rumah dan memeluk anak-anak saya, sesuatu yang jarang saya dapatkan dari ayah saya semasa hidupnya. Bisa jadi pernah dilakukannya dulu saat masa kanak-kanak saya, masa-masa yang tak banyak berbekas dalam ingatan. Ayah saya seorang lelaki yang keras hati, seorang politisi yang menghabiskan waktunya untuk partai, sesuatu yang disebutnya “perjuangan”.

Suatu hari seorang paman datang ke rumah kami dan memboyong saya ke rumahnya. Itulah hari pertama saya dari beberapa tahun masa kecil yang saya lewatkan di rumah kerabat, tanpa ayah-ibu. Konon kondisi keluarga kami sedang bagus-bagusnya, dan saya si anak bungsu “diambil” sebagai bentuk perhatian dari kerabat, semacam upaya mempererat tali persaudaraan. Hal yang sama terulang kembali saat usia 9-10 tahun, ketika saya harus belajar membaca Al Qur’an dan terpaksa harus tinggal bersama keluarga dekat ibu saya, seorang imam masjid dan guru mengaji. Ini berlangsung selama 3-4 tahun, sampai tiba saatnya khatam Qur’an, lulus ujian membaca Qur’an sampai surah terakhir secara lancar dan benar. Kedua peristiwa tersebut telah merenggut masa kecil saya, tanpa kenangan apapun bersama keluarga, tanpa ayah-ibu dan kakak-kakak. Masa-masa yang tak begitu menyenangkan.

Saya selalu ingin pulang ke rumah, bercengkarama dan mendengarkan celoteh anak-anak saya. Cerita mereka tentang sekolah, tentang pelajaran dan teman sekelas. Celoteh yang tak pernah terasa membosankan. Saya ingin memberi mereka kenangan masa kanak-kanak yang baik. Suatu saat, mereka akan mengenangnya sebagai masa-masa yang membahagiakan. Sebab hidup yang sebenarnya adalah hidup di masa kanak-kanak. Masa-masa itu menentukan seperti apa hidup seseorang di masa depan.

Saya selalu ingin pulang, sebab rumah, anak-anak dan keluarga adalah tempat terbaik, tempat di mana kita selalu diterima apa adanya. Anak-anak tak pernah mempersoalkan siapa dirimu. Seorang manejer proyek, direktur perusahan besar, seorang engineer yang dibutuhkan di mana-mana, politisi, dokter ataukah seorang kuli bangunan. Anak-anak hanya ingin kita hadir, selalu ada saat mereka butuhkan.

I’m on my way home…….

ruang tunggu bandara halim perdanakusuma, rabu 31 agustus 2016