MADINAH

image

Kau tak pernah bisa menduga, bilamana akan ke sana. Madinah, dan tentu saja Makkah, bagai magnet yang menarik seorang muslim untuk selalu datang dan datang lagi. Labbaik Allahumma labbaik, aku datang memenuhi panggilanMu, ya Allah.

Saya mungkin termasuk lelaki tradisional yang tabu menitikkan air mata untuk alasan apapun. Tapi tidak di Madinah dan Makkah. Saat pertama kali melaksanakan shalat subuh di Masjid Nabawi, air mata saya mengalir deras tanpa bisa saya bendung di rakaat pertama. Tak ada penjelasan apapun untuk peristiwa tangisan itu. Terjadi begitu saja, di luar kontrol akal sehat saya. Saya justeru menikmatinya, suasana trance yang sulit dijelaskan. Isteri saya bahkan mengalaminya lebih awal, dalam perjalanan dengan bis dari Jeddah saat baru saja memasuki Kota Madinah.

Pertama kali melakukan umrah itu, hampir tanpa rencana sebelumnya. Keinginan dan kesempatan itu datang tiba-tiba, datang begitu saja. Di suatu hari di akhir tahun 2014, saat mendengar niat saya memberangkatkan isteri ke tanah suci, seorang teman lama berkomentar “Seharusnya kau menemani isterimu, bersama-sama menunaikan ibadah umrah”. Tentu tak semudah itu, pikir saya, mengingat biayanya yang tak tergolong murah. Kau tahu, tiba-tiba saja telpon saya berdering, seorang teman yang lain menelpon dan minta bertemu sore itu. Saya kemudian disodori sebuah amplop sedang berisi segepok duit hanya dengan sebuah penjelasan singkat “Ini rejekimu, kebetulan bisnis saat ini lagi baik. Keuntungannya kita bagi-bagi”. Saya lupa apakah pernah membantunya dalam sebuah urusan di masa lalu, sehingga penting bagi dia untuk membalasnya dengan perbuatan yang dia anggap setimpal. Wallahualam. Teman saya itu berulang-ulang mengatakan “Duit itu benar-benar punyamu, Chalie”. Masya Allah, betapa semuanya menjadi begitu mudah ketika Allah menghendakinya. Jadilah di awal tahun 2015 saya menemani isteri melaksanakan umrah.

image

Madinah, kota dengan suasana magis yang begitu terasa. Saya yakin kalau gedung-gedung hotel dan mall bisa ditata sedemikian rupa, sehingga jarak Masjid Nabawi dengan gedung-gedung kapitalis itu terjaga, maka suasananya tentu akan lebih kondusif untuk ibadah haji dan umrah. Alhamdulillah, kabarnya pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah membuat rencana untuk menggusur hotel dan mall dari kawasan di sekitar masjid. Pada saatnya nanti, kita akan bebas memandang keagungan Masjid Nabawi dari segala arah, dalam jarak yang proporsional. Masjid di mana di dalamnya terdapat makam Nabi dan para Sahabat serta Rawdatul Jannah atau Taman Surga, tempat baginda Nabi dan para sahabat bercengkerama membiacarakan semua hal-ikhwal di masa awal perkembangan Islam saat itu. Saya membayangkan, di saat menjelang masuknya waktu shalat, akan terlihat para jamaah berbondong-bondong berjalan ke arah masjid dari segala penjuru, diiringi suara adzan yang begitu merdu, tanpa terhalang oleh gedung-gedung tinggi dan para pedagang suvenir. Insya Allah.

image

Madinah adalah kota yang sangat sejuk di awal dan akhir tahun, dan cenderung menjadi sangat panas di pertengahan tahun, walapun tetap masih lebih sejuk ketimbang Makkah di selatan yang berada lebih dekat ke garis khatulistiwa. Saya bersyukur bahwa kesempatan ke tanah suci bagi saya selalu datang pada akhir dan awal tahun, sehingga tak perlu bersusah-susah menghalau udara terik iklim gurun. Tempat favorit saya setelah shalat subuh adalah plaza (bukan dalam pengertian pusat belanja tetapi ruang terbuka dari beton dan batu-bata) di sisi timur masjid. Kita bisa membeli biji-bijian dan menaburkannya di pelataran plaza untuk gerombolan burung merpati yang jumlahnya sangat banyak dan cukup jinak. Ada juga kedai kopi, minimarket dan Kios Si Doel milik aktor/gubernur Banten Rano Karno serta kedai kebab, makanan khas Turki. Lumayanlah, bisa menajdi teman saat menikmati satu-dua batang rokok sebelum kembali ke hotel untuk sarapan pagi. Di siang hari menjelang waktu dzuhur, udara sejuk dan kering akan tetap berhembus menerpa kulit wajah. Pilihan kostum terbaik bagi saya adalah gamis, dilengkapi kafiyeh/sorban yang melilit leher dan kepala. Praktis dan nyaman.

Di Masjid Nabawi banyak “ustadz” yang memberikan tausiah dalam berbagai bahasa di antara waktu shalat, termasuk dalam bahasa Indonesia. Ada yang berbahasa Inggris, Urdu, dan bahasa Arab. Tentunya saya tidak akan menceritakan isi dan suasana di dalam Masjid Nabawi secara lebih detail. Telah banyak orang lain yang mampu melakukannya dengan cara yang lebih baik. Saya hanya berharap, akan selalu ada kesempatan buat saya untuk kembali ke sana, sekedar untuk mengucap salam dan melepas rindu pada baginda Muhammad SAW dan para sahabat.

Allahumma shalli wa sallim alaa nabiyyina Muhammad…..

 

Akhir Ramadhan, 5 Juli 2016