TO UGI

Posted by
THAHA DG HUSSEIN
Thaha Dg. Hussein

Kelebihan para perantau Bugis adalah mampu menyatu dengan  budaya setempat di mana mereka berada. Begitu menyatunya sehingga tanpa sadar adat Bugis cenderung ter-reduksi sedikit demi sedikit.

Persebaran para perantau Bugis jauh lebih merata ketimbang para perantau dari Jawa misalnya yang lebih suka mengelompok dalam satu kawasan tertentu. Pengalaman saya selama tinggal di Maluku Utara sering menemukan keluarga perantau Bugis yang hidup di desa terpencil di Halmahera bersama 5 – 6 keluarga lokal, membuka toko kecil dan memulai hidup di sana. Sebuah keberanian luar biasa yang hanya dimiliki para pionir. Kemampuan berdaptasi itulah yang membawa para perantau Bugis bisa diterima di manapun mereka pergi. Kita tahu bahwa sebagian sultan di Malaysia adalah anak keturunan para perantau Bugis. Demikian juga beberapa daerah lain di Jawa dan Sumatera.

Sebagai generasi keempat dari seorang perantau Bugis Sidenreng, tentu menjadi sebuah kewajiban bagi saya untuk kembali menelusuri garis keturunan dari pihak ayah. Alhamdulillah masih bisa menemukan sanak-saudara di Allakuang maupun di Makassar, lengkap dengan sebuah catatan panjang silsilah keluarga. Kami bahkan secara rutin bertemu setiap bulan dalam arisan Keluarga Allakuang.

sebuah catatan pendek untuk grup facebook To Maradeka

8 September 2012

3 comments

  1. BEBERAPA tahun lalu, saya mengoleksi buku BUGIS yang ditulis Pelras. Saya mulai terbiasa menjajari pemikiran BUGIS kawan kerabat, yang asli BUGIS, campuran Makassar, atau Toraja Mandar. Juga akhirnya bisa dengan lebih dalam memaknai perjalanan saya 11 bulan di Pontianak, Sanggau, Singkawang, menyeberang ke Entikong, Sriaman, Kucing, Bintulu, Miri dan Kuala Lurah, Sandakan. Saya terpukau, saat hendak berbuka puasa di perbatasan Brunei Darussalam medio 2002, seorang kawan Melayu Brunei, menyebutkan bahwa Raja pertama Brunei, adalah orang BUGIS, yang memilih keluar dari Bandar karena menolak intervensi kolonialisme Eropa, dan.dilantiklah nenek Sultan Hasanah Bolkiah untuk bertahta. Dulu sungai besar menuju ibukota Brunei, bernama Kalibone, kemudian oleh raja baru diganti untuk menghilangkan sejarah BUGIS. Saat hendak melintasi Kalimantan Timur, menuju Kalimantan Selatan, tempat leluhur ayah saya dilahirkan, cerita heroik BUGIS, menyeruak lagi. Saya tak pernah bisa sedikitpun berbicara daratan kalimantan tanpa pengaruh BUGIS. Akan saya lanjutkan di warung kopi saat bertemu Daeng Chalie

    1. Cerita seperti itu bisa kita temukan di banyak tempat di negeri ini. Mungkin yang paling menonjol di Kalimantan, yang secara geografis memang sangat dengan Sulawesi Selatan. Kakek saya, yang fotonya saya pajang di atas, adalah seorang Kapitan Bugis di daerah Maluku bagian selatan. Konon di jaman sebelum proklamasi, setiap etnis memiliki seorang pemimpin, yang ditunjuk oleh penguasa setempat menjadi semacam penghubung. Sebuah jabatan yang disebut Kapitan. Istimewanya, Kapitan Bugis adalah kepala dari semua kapitan yang ada.

      Suatu saat, seseorang harus menulis tentang hal ini, hagemoni orang Bugis di Nusantara.

  2. Punya cerita atau bahkan silsilah kapitan bugis di Maluku, kah. Tolong dibagi lah. Saya ingin lihat karena sudah lama saya ingin tau.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *