BERKACALAH PADA ALAM

img_7195

Hari-hari masih sama seperti kemarin : angin tetap bertiup, menerbangkan daun-daun tua yang gugur. Daun-daun muda tumbuh mekar. Kita sesungguhnya bisa berkaca, betapa alam mengajarkan keikhlasan pada takdir. Yang tua pergi digantikan yang muda, tanpa muslihat, tanpa rekayasa. Semua ada waktunya.

DILARANG BERBUAT ASUSILA

riauheadline_Apes--Kenalan-Lewat-Medsos-Berujung-Asusiala-di-Dumai

 

Di setiap kamar spa dan massage selalu ada tulisan dengan warna menyolok berisi peringatan : DILARANG BERBUAT ASUSILA. Anehnya, para terapis wanita yang rata-rata berpakaian minim dan seksi itu selalu mengakhiri setiap sesi pijatan dengan pertanyaan penuh godaan : “bagian mana lagi yang mau dipijat om?” Nah!

 

BaladaKaumUrban

TO UGI

THAHA DG HUSSEIN
Thaha Dg. Hussein

Kelebihan para perantau Bugis adalah mampu menyatu dengan  budaya setempat di mana mereka berada. Begitu menyatunya sehingga tanpa sadar adat Bugis cenderung ter-reduksi sedikit demi sedikit.

Persebaran para perantau Bugis jauh lebih merata ketimbang para perantau dari Jawa misalnya yang lebih suka mengelompok dalam satu kawasan tertentu. Pengalaman saya selama tinggal di Maluku Utara sering menemukan keluarga perantau Bugis yang hidup di desa terpencil di Halmahera bersama 5 – 6 keluarga lokal, membuka toko kecil dan memulai hidup di sana. Sebuah keberanian luar biasa yang hanya dimiliki para pionir. Kemampuan berdaptasi itulah yang membawa para perantau Bugis bisa diterima di manapun mereka pergi. Kita tahu bahwa sebagian sultan di Malaysia adalah anak keturunan para perantau Bugis. Demikian juga beberapa daerah lain di Jawa dan Sumatera.

Sebagai generasi keempat dari seorang perantau Bugis Sidenreng, tentu menjadi sebuah kewajiban bagi saya untuk kembali menelusuri garis keturunan dari pihak ayah. Alhamdulillah masih bisa menemukan sanak-saudara di Allakuang maupun di Makassar, lengkap dengan sebuah catatan panjang silsilah keluarga. Kami bahkan secara rutin bertemu setiap bulan dalam arisan Keluarga Allakuang.

sebuah catatan pendek untuk grup facebook To Maradeka

8 September 2012

PROVOKASI MEDIA ONLINE

Tiap hari ada saja berita si anu masuk Islam, si fulan diberi hidayah, si ini akhirnya jadi muallaf, lengkap dengan foto berbusana muslim. Saya sama sekali tidak bangga baca berita-berita itu. Pertama, karena hampir semua berita itu datangnya dari blog gratisan yang bisa dibuat oleh siapa saja, tanpa identitas apapun, dan rata-rata terbukti hanya berita HOAX. Kedua, kalaupun benar berita tersebut, ndak ada pengaruhnya buat saya dalam beragama. Biasa saja. Memangnya kenapa kalau Jacky Chan atau Pacquiao masuk Islam?

Di bawah berita bodong itu kemudian dikomentari beragam kata, tapi rata-rata menulis “subhanallah…….” Nama Allah disia-siakan untuk hal-hal sepele yang jelas-jelas palsu. Kita kaum muslim jadi terlihat begitu bodoh, mudah diprovokasi oleh blog-blog pribadi yang tidak jelas admin dan penulisnya.

Beragamalah dengan akal sehat. Memilah-milah berita di media online itu bukan hal yang sulit. Tinggal buka link dan perhatikan sumber beritanya. Paling mudah kita bisa menandai media mainstream : kompas, republika, detikcom, dll. Tentu juga harus dibedakan antara news/berita atau hanya opini penulis. Media seperti Kompasiana jelas hanya opini, tak bisa dijadikan rujukan. Apalagi blog pribadi tanpa admin dan nama penulis. Jenis terakhir ini tak perlu di-like, supaya tak perlu nongol di timeline anda.

Demikian saudara, semoga bermanfaat. Jangan lupa, nyalakan pikiranmu.

Kopizone, 8 Mei 2016