MUADZIN

Posted by

muazzin

Hampir setiap sore saat pulang kerja, saya menghabiskan waktu di kantor seorang teman di Jalan Tupai, Makassar. Di ujung jalan ini ada sebuah gereja Katholik yang pada saat tertentu mendentangkan loncengnya. Tak jauh dari gereja tersebut berdiri sebuah masjid yang bersisian dengan ruko dan rumah warga. Tentu dari sana juga selalu bergema suara tarhim dan adzan di setiap waktu shalat. Dua tempat ibadah ini gambaran nyata keharmonisan hidup ummat beragama di Makassar. Tapi bukan soal itu yang ingin saya ceritakan.

Masjid itu memiliki seorang muadzin tetap yang setiap saat mengumandangkan adzan lewat pengeras suara besar yang terpasang di menara masjid. Walaupun hampir setiap hari mendengarnya, suara merdunya selalu saja menarik untuk disimak. Pernah suatu hari sang muadzin berhalangan dan digantikan orang lain. Sore itu jadi terasa agak berbeda tanpa suaranya.

Saya membayangkan Bilal, budak Ethiopia yang dimerdekakan oleh Abu Bakar ra. dan menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam. Bisa jadi saya agak berlebihan menggambarkan suara merdu sang muadzin masjid di Jalan Tupai itu, karena membandingkannya dengan Bilal bin Rabah, lelaki yang amat mencintai dan dicintai baginda Nabi. Tapi getaran suara itu, mampu menggerakkan hati untuk melangkah ke masjid dan shalat berjama’ah di sana. Bila kita berada tepat di belakang sang muadzin, dapat kita saksikan tubuhnya bergetar di akhir setiap bait adzan yang dikumandangkan dengan nada tinggi dan panjang, seolah napasnya hendak lepas meninggalkan tubuhnya yang ringkih.

Sesekali datanglah ke sana, nikmati kemerduan suara adzan dari sang muadzin, seorang lelaki sederhana berkulit legam yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengingatkan kita tentang waktu shalat.

Makassar, April 2014

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *