MERENUNGI SEPENGGAL SEJARAH HUBUNGAN ISLAM – KRISTEN

Posted by

Di masa awal perkembangan Islam di kota Mekkah, kita tahu bahwa kaum Muslimin yang masih secuil jumlahnya dan sangat lemah itu terpaksa harus mengungsi dan meminta perlidungan kepada Raja Negus, penguasa negeri Abbesinia di timur Afrika yang sangat adil dan bijaksana. Kerajaan dengan penduduk mayoritas beragama Kristen itu kini kita kenal sebagai Ethiopia. Itulah hijrah pertama kaum muslimin untuk menghindari ancaman fisik dari para penentang penyebaran ajaran Islam. Bisa jadi itu juga merupakan interaksi pertama antara kaum Muslimin dan Nasrani.

Mengapa ke Abbesinia yang Kristen? Kita bisa saja menuliskan sekian banyak alasan yang logis sebagai pembenaran terhadap tindakan Nabi menyeberangkan kaum Muslimin melewati Laut Merah tersebut. Tapi satu ayat dalam Al Qur’an, bertahun-tahun kemudian setelah peritiwa hijrah itu, menyebutkannya secara lugas : Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman ialah orang-orang yang berkata “sesungguhnya kami ini orang Nasrani” (Al-Maidah:82).

Baginda Nabi sendiri, di periode Madinah, pernah mengeluarkan semacam jaminan perlindungan dan hak-hak lain bagi para biarawan di Biara Santa Katarina, Semenanjung Sinai. Surat ini dimeteraikan dengan gambar telapak tangan Nabi. Surat yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib atas perintah Nabi tersebut dikenal dengan Achtiname of Muhammad atau Patent of Mohammed, berisi jaminan keselamatan bagi para biarawan dan seluruh ummat Nasrani di manapun mereka berada : “suatu perjanjian bagi mereka yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, kami beserta mereka” serta “Tidak ada bangsa (Muslim) yang boleh melanggar perjanjian ini sampai Akhir Zaman”. Sebuah dokumen yang keontetikannya diakui oleh para ahli Islam maupun Kristen.

The_Patent_of_Mohammed

“Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai suatu perjanjian bagi mereka yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, kami beserta mereka.

Sesungguhnya aku, para hamba, para pembantu dan para pengikutku membela mereka, karena orang Kristen adalah wargaku; dan demi Allah! aku menahan diri untuk melakukan apapun yang menentang mereka.

Tidak ada paksaan boleh dilakukan untuk mereka.

Juga tidak boleh hakim-hakim mereka disingkirkan dari pekerjaannya, maupun para biarawan mereka dari biara-biaranya.

Tidak ada orang yang boleh menghancurkan rumah agama mereka, atau merusakkannya, atau mengambil sesuatupun daripadanya ke dalam rumah-rumah orang Muslim.

Bilamana ada orang yang melakukan hal ini, ia menyalahi perjanjian Allah dan tidak mematuhi Nabi-Nya.

Sesungguhnya, mereka adalah sekutuku dan memiliki perjanjian erat dariku melawan semua yang mereka benci.

Tidak ada orang yang boleh memaksa mereka untuk pergi atau mengharuskan mereka untuk berperang.

Orang-orang Muslim harus berperang untuk mereka.

Jika seorang wanita Kristen menikah dengan seorang Muslim, tidak boleh dilakukan tanpa seizin wanita itu. Wanita itu tidak boleh dihalangi untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa.

Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dihalangi untuk memperbaikinya atau kekudusan perjanjian-perjanjian mereka.

Tidak ada bangsa (Muslim) yang boleh melanggar perjanjian ini sampai Akhir Zaman.”

Peristiwa hijrah pertama ke Abbesinia atau Ethiopia dan Achtiname of Muhammad itu seharusnya bisa menjadi sumber untuk membangun jembatan antara kaum Muslim dan Nasrani, mengilhami ummat kedua agama untuk bangkit dari sikap intoleran, saling memahami dan hidup berdampingan secara damai.

 

Lingkas, 26 April 2016

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *