HMI

Posted by

 

Saya mengenal HMI dari ‘kakak-kakak’ saya, para aktifis mahasiswa 70-80an. Saat di sekolah menengah, para senior itu – yang hampir-hampir menjadi legenda dalam kisah-kisah pergerakan mahasiswa di Makassar hingga saat ini – sering berkumpul dan berdiskusi di rumah dinas abang saya yang sempit di Kampus Unhas Baraya Makassar. Secara tidak langsung merekalah yang ‘meracuni’ saya, sehingga pada tahun pertama kuliah saya memutuskan untuk mendaftar sebagai calon anggota HMI dan mengikuti Basic Training pada tahun yang sama, kira-kira di awal tahun 1985. Jangan tanya angkatan ke berapa. Saya hanya ingat basic training tersebut dilaksanakan oleh HMI Komisariat Fakultas Hukum Unhas. Tapi masa keanggotaan saya tidak berusia lama. Segera setelah selesai menjalani masa training dan kemudian menjadi panitia pelaksana untuk basic training angkatan berikutnya, saya pergi begitu saja dan tak pernah kembali ke Botolempangan, markas HMI Cabang Makassar. Ada semacam perasaan tidak puas saat itu, ketika HMI memutuskan menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. Kita tahu bahwa akibat dari keputusan tersebut telah terjadi perpecahan di dalam tubuh Pengurus Besar HMI di Jakarta. Sebagian elit HMI kemudian membentuk HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi). Salah satu tokoh utama HMI-MPO ini adalah Eggy Sudjana. Anda pasti kenal om advokat yang satu ini kan đŸ˜‰ Saya sendiri sebelum bergabung dengan HMI adalah anggota PII (Pelajar Islam Indonesia), organisasi yang lebih tua dari HMI dan sangat konsisten menyatakan penolakan terhadap asas tunggal Pancasila. Saya menjadi anggota di sana sejak masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama.

Di tahun-tahun berikutnya pada masa kuliah saya di Fakultas Teknik Unhas, diam-diam kami sepakat untuk membatasi ruang-gerak organisasi ekstra di lingkup fakultas. Bukan hanya HMI tetapi juga PMII, GMKI, PMKRI, dan lain-lain. Tak berarti organisasi-organisasi itu tak punya komisariat di fakultas kami. Mereka hanya dibatasi perannya dalam kepengurusan senat mahasiswa. Yang mau masuk silahkan tanggalkan baju seragamnya. Sejak saat itu tak ada lagi bendera apapun dalam pemilihan ketua senat mahasiswa di Fakuktas Teknik Unhas. Di tahun-tahun sebelumnya, hampir mustahil seseorang menjadi ketua senat mahasiswa tanpa restu dari HMI Korkom Unhas. Bisa dicatat bahwa pada era itulah Fakuktas Teknik Unhas merupakan yang pertama di lingkungan Unhas melakukan pemilihan langsung ketua senat mahasiswa. Kami menyebutnya Pemilihan Raya Mahasiswa Teknik, one man one vote. Tradisi itu terjaga hingga kini, bahkan kemudian diikuti oleh semua fakultas lain.

Kembali ke soal HMI di atas. Di masa itu Orde Baru berada di puncak kejayaannya. Tak ada sesuatupun yang bisa terlaksana tanpa sepengetahuan dan seijin pemerintahan Suharto. Tetapi HMI tetap berdiri tegak di luar sana, menjadi motor dari pergerakan mahasiswa melawan Orde Baru, sementara PII yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal dan tetap mencantumkan Islam sebagai asas organisasi terpaksa harus tiarap untuk kemudian perlahan menghilang hingga saat ini. Bayangkanlah negeri ini tanpa kehadiran HMI, tentu akan sangat berbeda. Begitu banyak tokoh yang lahir dari sana dan memberi warna dalam perjalanan panjang negeri ini. Saya, walaupun selama bertahun-bertahun semasa mahasiswa tak pernah sekalipun ikut dalam aktifitas HMI, tetapi di dalam hati tetap merasa sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar hijau-hitam. Dan perasaan itu, entah mengapa masih terbawa hingga kini.

Makassar, 24 November 2015

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *