BADIK KAKEK SAYA DAN ABRAHAM SAMAD

Posted by

Kakek saya, Thaha Dg Hussein, seorang lelaki Bugis dari Allakuang Sidrap, mewariskan sebuah badik tua berkarat, berbercak kemerahan. Konon bercak itu adalah darah seorang Belanda yang ditikam kakek saya dalam sebuah perkelahian di jaman penjajahan. Sebuah peristiwa yang memaksanya merantau jauh ke timur.

Saya, yang bukan anak sulung, mendapatkan badik itu dari bapak saya. Entah mengapa badik itu tak diberikannya kepada abang saya yang anak sulung, seorang pendidik berjuluk guru besar. Saat merantau ke Jakarta, juga kota-kota lain yang pernah saya tinggali, badik itu saya bawa serta.

Ketika ngobrol di warung kopi hari minggu lalu, seorang senior saya, guru besar di almamater saya Universitas Hasanuddin, sedikit menjelaskan tentang falsafah orang Bugis-Makassar, Tellu Cappa, dalam arti harfiah berarti ‘tiga ujung’. Badik adalah ujung ketiga, alternatif terakhir bagi seorang laki-laki Bugis. Cappa Kawali membuat seorang laki-laki Bugis tak pernah benar-benar sendirian.

Mendengar penjelasan tersebut, saya jadi ingat pada badik saya. Syukur alhamdulillah, badik itu tak pernah saya gunakan selama berada bersama saya, lebih dari dua puluh tahun terakhir.

Empat tahun lalu, 2011, sesaat setelah dilantik sebagai Ketua KPK, beredar foto Abraham Samad sedang menghunus sebuah badik yang diangkat tinggi, di tengah kerumunan orang yang mengelilinginya. Abraham seolah ingin menegaskan kebugisannya, juga tekad untuk menjaga amanah dan kehormatan. Dan kita semua menjadi saksi, betapa banyak elit korup negeri ini yang dibawanya ke penjara.

Hari ini, saat Abraham menjadi tersangka untuk perkara yang tak jelas asal-usulnya, Insya Allah dia tetap seorang laki-laki Bugis dengan harga diri dan kehormatan yang terjaga. Betapapun, Openg takkan pernah sendirian, kalaupun semua orang menjauh satu-persatu. Selalu ada kawan terakhir yang menemani. Cappa Kawali.

Makassar, 17 Februari 2015

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *