FALLING LEAVES

 

552854686ea834e9628b4567

 

Daun-daun yang gugur, kadang bagai air mata. Kau tahu, dalam kesendirian, suara daun-daun yang gugur tertiup angin selalu terdengar lirih.

Di manakah kalian kawan, yang dulu selalu bersama menemani? Jangan pernah kembali, walau pepohonan di sini kembali rindang dan seteduh dulu.

 

 

HMI

 

Saya mengenal HMI dari ‘kakak-kakak’ saya, para aktifis mahasiswa 70-80an. Saat di sekolah menengah, para senior itu – yang hampir-hampir menjadi legenda dalam kisah-kisah pergerakan mahasiswa di Makassar hingga saat ini – sering berkumpul dan berdiskusi di rumah dinas abang saya yang sempit di Kampus Unhas Baraya Makassar. Secara tidak langsung merekalah yang ‘meracuni’ saya, sehingga pada tahun pertama kuliah saya memutuskan untuk mendaftar sebagai calon anggota HMI dan mengikuti Basic Training pada tahun yang sama, kira-kira di awal tahun 1985. Jangan tanya angkatan ke berapa. Saya hanya ingat basic training tersebut dilaksanakan oleh HMI Komisariat Fakultas Hukum Unhas. Tapi masa keanggotaan saya tidak berusia lama. Segera setelah selesai menjalani masa training dan kemudian menjadi panitia pelaksana untuk basic training angkatan berikutnya, saya pergi begitu saja dan tak pernah kembali ke Botolempangan, markas HMI Cabang Makassar. Ada semacam perasaan tidak puas saat itu, ketika HMI memutuskan menerima Pancasila sebagai asas tunggal organisasi. Kita tahu bahwa akibat dari keputusan tersebut telah terjadi perpecahan di dalam tubuh Pengurus Besar HMI di Jakarta. Sebagian elit HMI kemudian membentuk HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi). Salah satu tokoh utama HMI-MPO ini adalah Eggy Sudjana. Anda pasti kenal om advokat yang satu ini kan 😉 Saya sendiri sebelum bergabung dengan HMI adalah anggota PII (Pelajar Islam Indonesia), organisasi yang lebih tua dari HMI dan sangat konsisten menyatakan penolakan terhadap asas tunggal Pancasila. Saya menjadi anggota di sana sejak masih duduk di kelas dua sekolah menengah pertama.

Di tahun-tahun berikutnya pada masa kuliah saya di Fakultas Teknik Unhas, diam-diam kami sepakat untuk membatasi ruang-gerak organisasi ekstra di lingkup fakultas. Bukan hanya HMI tetapi juga PMII, GMKI, PMKRI, dan lain-lain. Tak berarti organisasi-organisasi itu tak punya komisariat di fakultas kami. Mereka hanya dibatasi perannya dalam kepengurusan senat mahasiswa. Yang mau masuk silahkan tanggalkan baju seragamnya. Sejak saat itu tak ada lagi bendera apapun dalam pemilihan ketua senat mahasiswa di Fakuktas Teknik Unhas. Di tahun-tahun sebelumnya, hampir mustahil seseorang menjadi ketua senat mahasiswa tanpa restu dari HMI Korkom Unhas. Bisa dicatat bahwa pada era itulah Fakuktas Teknik Unhas merupakan yang pertama di lingkungan Unhas melakukan pemilihan langsung ketua senat mahasiswa. Kami menyebutnya Pemilihan Raya Mahasiswa Teknik, one man one vote. Tradisi itu terjaga hingga kini, bahkan kemudian diikuti oleh semua fakultas lain.

Kembali ke soal HMI di atas. Di masa itu Orde Baru berada di puncak kejayaannya. Tak ada sesuatupun yang bisa terlaksana tanpa sepengetahuan dan seijin pemerintahan Suharto. Tetapi HMI tetap berdiri tegak di luar sana, menjadi motor dari pergerakan mahasiswa melawan Orde Baru, sementara PII yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal dan tetap mencantumkan Islam sebagai asas organisasi terpaksa harus tiarap untuk kemudian perlahan menghilang hingga saat ini. Bayangkanlah negeri ini tanpa kehadiran HMI, tentu akan sangat berbeda. Begitu banyak tokoh yang lahir dari sana dan memberi warna dalam perjalanan panjang negeri ini. Saya, walaupun selama bertahun-bertahun semasa mahasiswa tak pernah sekalipun ikut dalam aktifitas HMI, tetapi di dalam hati tetap merasa sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar hijau-hitam. Dan perasaan itu, entah mengapa masih terbawa hingga kini.

Makassar, 24 November 2015

SEBUAH CATATAN MENJELANG PILPRES

Sudah lama saya menjadi pendukung Jenderal Prabowo. Beliau adalah alternatif terbaik, ketimbang harus memilih Aburizal Bakri atau yang lebih konyol seperti Rhoma Irama. Saya mengikuti dengan seksama semua aktifitasnya selama 2-3 tahun terakhir ini. Keyakinan pada Prabowo makin menjadi ketika kita harus ‘berhadapan’ dengan ulah tetangga kecil kita, Malaysia dan Singapore. Kita harus punya presiden yang kuat dan berani, dan sifat itu ada pada Prabowo. Itulah keyakinan yang terus tumbuh dalam hati saya, sampai kemudian datang Jokowi. Orang Solo ini sungguh tak meyakinkan penampakannya. Benar-benar Jawa kebanyakan yang biasa kita temui sehari-hari, di manapun kita pergi dalam wilayah republik ini. Jokowi seolah menjadi antitesis bagi Prabowo yang cenderung elitis, yang lebih sering beriringan dengan rakyat jelita ketimbang rakyat jelata. Jokowi tampil apa adanya, tak ada skenario yang mengatur tingkah lakunya. Dia datang dan menyelesaikan banyak masalah tanpa huru-hara. Dia tampil dengan pesona yang berbeda, menyiratkan harapan untuk hari-hari yang datang nanti, seolah itu sebuah tekad yang tak pernah dia ucapkan tapi bisa kita rasakan. Dia berbicara dengan bahasa kita, bahasa rakyat jelata yang sederhana. Harus saya katakan, dalam sekejap saja, saya tak ragu untuk berpindah mendukungnya.

Makassar, 11 Juni 2014

JANCY RAIB dan GENANGAN AIR di KOTA MAKASSAR


Kolonel purnawirawan Jancy Raib memimpin Makassar sebagai walikota hanya satu periode, 1983 – 1988. Di tahun-tahun itu pula saya melewati masa-masa sekolah menengah dan sebagian masa kuliah saya. Tempat tinggal saya di Baraya, tepat di pinggir kali Pannampu, sangat sering tergenang air. Seingat saya kali Pannampu memang tidak pernah dibersihkan sebelumnya. Permukaan kali itu dipenuhi tanaman eceng gondok dan kangkung serta sampah yang bertebaran.

Di akhir masa jabatannya yang pendek itu, pak Jancy Raib membuat sebuah program yang dampaknya terasa puluhan tahun kemudian : mengeruk kali dan sungai kecil yang ada di kota Makassar, memperkuat bibir kali dengan talud dan membangun jalan-jalan lingkungan di kedua sisi kali. Tentu saja termasuk kali Pannampu di tempat tinggal saya. Kita saksikan bahwa bertahun-tahun setelah masa kepemimpinan beliau, sebagian besar wilayah kota Makassar terbebas dari genangan air saat musim hujan.

Ada satu pelajaran berharga yang harusnya bisa kita petik dari pengalaman di atas, bahwa penanganan terbaik untuk mengatasi genangan air adalah dengan memperbaiki daerah aliran air. Kanal-kanal yang dibangun pada masa pak Jancy harusnya dikeruk, saluran primer-sekunder dibersihkan. Jangan lupa menyediakan tempat sampah yang layak bagi warga kota, sebab masalah drainase di kota ini tak terlepas dari persoalan sampah. Dan yang paling penting adalah memikirkan hal ini secara terpadu dan menyeluruh, dalam skala kawasan. Genangan air tak bisa diatasi hanya dengan meninggikan badan jalan seperti yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar saat ini di Jalan Boulevard Panakkukang. Itu namanya memindahkan air dari comberan dan jalanan ke rumah warga. Mikiiir dong……!!

HEDONIC TREADMILL


Ketika income meningkat berkali-kali lipat, ternyata bahagia tetap diam di tempat. Stagnan. Naiknya income hanya diikuti oleh gaya hidup, akibat budaya konsumerisme, nafsu untuk membeli banyak hal yang sebenarnya tak dibutuhkan. Lima juta, sepuluh juta, lima puluh juta, berapapun pendapatan yang diperoleh, tetap saja tak cukup. Dulu, saat baru memulai, kau hanya mengendarai avanza. Ketika kariermu bagus dan pendapatan meningkat, kaupun menggantinya dengan alphard. Dulu kau hanya mengenakan kickers. Kini tak terbilang johnny lace up, bally, aldo brue yang terpajang rapi di rak sepatumu. Nafsu yang terus meningkat membuat bahagia seolah tetap di sana, diam tak bergerak, meski income bertambah berkali-kali lipat. Para ahli menyebutnya hedonic treadmill : ekspektasi akan materi yang terus meningkat, tapi bahagia tetap jalan di tempat.

BADIK KAKEK SAYA DAN ABRAHAM SAMAD

Kakek saya, Thaha Dg Hussein, seorang lelaki Bugis dari Allakuang Sidrap, mewariskan sebuah badik tua berkarat, berbercak kemerahan. Konon bercak itu adalah darah seorang Belanda yang ditikam kakek saya dalam sebuah perkelahian di jaman penjajahan. Sebuah peristiwa yang memaksanya merantau jauh ke timur.

Saya, yang bukan anak sulung, mendapatkan badik itu dari bapak saya. Entah mengapa badik itu tak diberikannya kepada abang saya yang anak sulung, seorang pendidik berjuluk guru besar. Saat merantau ke Jakarta, juga kota-kota lain yang pernah saya tinggali, badik itu saya bawa serta.

Ketika ngobrol di warung kopi hari minggu lalu, seorang senior saya, guru besar di almamater saya Universitas Hasanuddin, sedikit menjelaskan tentang falsafah orang Bugis-Makassar, Tellu Cappa, dalam arti harfiah berarti ‘tiga ujung’. Badik adalah ujung ketiga, alternatif terakhir bagi seorang laki-laki Bugis. Cappa Kawali membuat seorang laki-laki Bugis tak pernah benar-benar sendirian.

Mendengar penjelasan tersebut, saya jadi ingat pada badik saya. Syukur alhamdulillah, badik itu tak pernah saya gunakan selama berada bersama saya, lebih dari dua puluh tahun terakhir.

Empat tahun lalu, 2011, sesaat setelah dilantik sebagai Ketua KPK, beredar foto Abraham Samad sedang menghunus sebuah badik yang diangkat tinggi, di tengah kerumunan orang yang mengelilinginya. Abraham seolah ingin menegaskan kebugisannya, juga tekad untuk menjaga amanah dan kehormatan. Dan kita semua menjadi saksi, betapa banyak elit korup negeri ini yang dibawanya ke penjara.

Hari ini, saat Abraham menjadi tersangka untuk perkara yang tak jelas asal-usulnya, Insya Allah dia tetap seorang laki-laki Bugis dengan harga diri dan kehormatan yang terjaga. Betapapun, Openg takkan pernah sendirian, kalaupun semua orang menjauh satu-persatu. Selalu ada kawan terakhir yang menemani. Cappa Kawali.

Makassar, 17 Februari 2015

BAHARUDDIN

Entah di mana dia sekarang. Lelaki Mandar ini teman kuliah saya, seangkatan di Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin Makassar. Membaca berita di koran hari ini tentang Raeni, anak tukang becak yang berhasil jadi sarjana pendidikan di Universitas Negeri Semarang, membawa ingatan saya kembali pada Baharuddin. Kami tak pernah lagi bertemu atau saling kontak sejak lulus dari universitas lebih dari dua puluh tahun lalu.

Di awal masa kuliah, pertengahan tahun 1985, kami masih menempati kampus lama di Baraya Makassar. Teman seangkatan saya terbilang sedikit, hanya berjumlah 20 orang, membuat kami saling kenal satu sama lain dengan sangat baik. Kecuali Baharuddin. Dia adalah sebuah pribadi yang tak pernah menyolok, sama sekali tak pernah berusaha menarik perhatian. Tak banyak teman yang tahu, kalau sehari-hari Baharuddin harus mengayuh sepeda ke kampus. Sebuah sepeda tua yang mungkin saja merupakan warisan orang tua yang dibawanya dari Mandar.

Setahun berlalu dan kami harus pindah kuliah ke kampus baru Tamalanrea, kurang lebih 10 kilometer dari pusat kota. Jarak yang cukup jauh itu memaksa saya meninggalkan sepeda motor bebek dan mulai mencoba ‘pete-pete kampus’, angkutan kota yang disediakan khusus untuk melayani mahasiswa. Tapi Baharuddin tetap setia dengan sepeda tuanya. Satu hal yang membuat saya kagum, tak pernah sekalipun ada keluh-kesah yang terlontar dari mulutnya, kecuali senyum ramah.

Satu sore menjelang magrib, bersama beberapa teman bermaksud menghabiskan waktu di Pantai Losari. Pantai dengan panjang kurang lebih 1 kilometer ini menjadi tempat nongkrong anak muda Makassar di tahun 80an. Tempat ngeceng dan mejeng, dua istilah anak gaul di masa itu. Sore itulah saya menemukan sisi lain dari teman saya Baharuddin. Dia ternyata menghabiskan setiap sorenya di Pantai Losari, berjualan koran untuk menutupi biaya hidup dan kuliahnya.

Bertahun kemudian Baharuddin yang tangguh itu berhasil menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Arsitektur dan berhak menyandang gelar insinyur.

Makassar, 11 Juni 2014