KOTA TANPA PEJALAN KAKI – dimuat di Kolom Literasi Koran Tempo Makassar, 22 Juni 2013

Oleh : Erni Aladjai


Sebuah kota dengan jumlah pedestrian (pejalan kaki) terbesar adalah kota yang beradab. Sementara manusia pengguna mobil dan kendaraan roda dua adalah bagian yang tak manusiawi di kota besar (meski tak semua pengguna kendaraan tak menghormati pedestrian).

Sikap manusia di kota besar yang tak manusiawi kemudian makin dikukuhkan oleh pemerintah, penata kota, pemilik mall dan pedagang kaki lima. Pemerintah bersekongkol dengan pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima menyerobot trotoar, pemerintah hidup dari pajak tak resmi si pedagang kaki lima. Di sisi lain, ada mall atau gedung perkantoran yang hanya menyediakan lahan parkir untuk mobil. Sehingga motor terparkir di trotoar. Hal lainnya sikap pelit tak pantas yang mendarah daging. Hingga manusia tak mau membayar pajak yang mahal sedikit, demi tempat parkir resmi – yang bukan di trotoar dan pinggir jalan. Di sisi yang lain lagi, demi keselamatan dan rasa aman, maka seseorang harus punya kendaraan.

Pernyataan saya di atas memang lugu dan sinis, tapi bagi saya, tak apa-apa untuk mengulang sesuatu yang batu dan terus berulang-ulang menjadi masalah fatal dan vital. Tahun 2004, ketika saya di Makassar, seorang pengendara motor ngebut dan menyalip saat saya menyeberang jalan, ketika saya memarahi dan mengingatkan ia untuk menghargai pedestrian, ia justru balik marah besar. Bukannya meminta maaf karena nyaris memutus nyawa seseorang. Ketika itu saya berpikir, Oh jadi jika Tuan sudah punya mobil atau kendaraan, maka jalan adalah milik Tuan, begitu? Pengguna jalan yang lain, yang menggunakan kaki─bukan mesin, bukanlah siapa-siapa. Tuan sungguh beradab!
Benny H Hoed, guru besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia mengatakan; di negeri kita, pemaknaan sosial atas tempat yang disebut “jalan” telah mengalami pemaknaan yang melenceng. Pembangunan jalan-jalan di kota-kota kita—termasuk di Jakarta (saya tambahkan, di Makassar juga)—seakan tidak memasukkan jalur khusus bagi pejalan kaki. Yang dipentingkan adalah jalur kendaraan bermotor.

Bahkan zebra cross kehilangan makna. Pengendara mobil dan kendaraan bermotor belajar melupakan Undang-undang No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan, bahwa mereka diharuskan mengalah kepada penyeberang jalan. Pejalan kaki di negeri kita, justru diminta mengalah untuk sesuka-suka hati pemilik kendaraan memberikan kesempatan menyeberang. Sungguh di negeri kita, orang belajar tidak adil dan menindas sejak di jalan. Saya jadi teringat perkataan Roland Barthes, bahwa kota besar paling sering tak manusiawi.

Di Jakarta, tiga tahun belakangan ini, banyak anak muda, orang dewasa dan lansia yang vokal menuntut hak-hak pedestrian. Sebab mereka atau kita semua tahu, jalan kaki adalah memang bagian dari manusia. Banyak artikel kesehatan mengatakan jalan kakilah untuk mengurangi penyakit tulang, obesitas, diabetes, bahkan bisa mengurangi resiko terkena kanker payudara.

Ada pula sebuah artikel kesehatan yang mengatakan berjalan kaki membuat kita bahagia karena jalan kaki bisa mengurangi resiko stres dan depresi, saya percaya ini. Tapi jika Anda berjalan kaki di kota-kota besar di Indonesia, maka yang terjadi adalah; saya jamin, anda  makin depresi.

Dan saat ini dengan imajinasi “berlebihan”, saya membayangkan Indonesia bisa mencontoh Athena. Athena adalah kota paling beradab sejak zaman dewa-dewa. Julukan untuk kota ini adalah “Taman bermain para Dewa”. Label beradab Athena tak lepas dari cara manusianya memperlakukan para pejalan kaki. Bahkan istilah pedestrian sendiri bermula dari kisah Dewa Hermes dalam mitologo Yunani kuno. Dikisahkan Dewa Hermes adalah dewa pelindung para pengelana, pejalan kaki dan para saudagar yang mengembara. Itulah kenapa tata kota Athena teduh, jalanannya bersih, penuh taman, gedung-gedung penuh sentuhan kemanusiaan, sehingga semua orang bahagia saat berjalan kaki.

Memang sebagai negara berkembang yang hanya tahu berkembang biak, terlalu jauh jika kita mencontoh tata kota Athena yang melindungi pejalan kaki, tapi kita bisa menengok negeri tetangga; Malaysia. Kenapa Malaysia yang dulunya di era Soekarno belajar banyak hal dari negeri kita, mampu melindungi pejalan kakinya, sementara negeri tercinta kita; Indonesia, tak berlaku begitu?

Ah, apakah Tuan dan Pemerintah kita pura-pura tidak tahu atau menutup mata, bahwa ketergantungan pada kendaraan bermotor menciptakan biaya menjulang pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan? Sementara negeri kita belum menjalankan manajemen mobilitas dengan sungguh-sungguh. Hingga sedikit pun warga tak diberi rasa aman seperti yang ditawarkan  negara-negara lain seperti; Singapura, Malasyia, Amsterdam, San Fransico atau Praha.

Belanda adalah negara yang paling serius menerapkan manajemen mobilitas, banyak perusahaan di Amsterdam menurunkan tingkat pemakaian mobil hingga 10 persen, yang kemudian diganti dengan sepeda.

Kini kita hanya bisa merindukan era tahun 70-80-an, di mana ketika itu kota Makassar masih penuh pohon dan orang bepergian dengan jalan kaki. Trotoar tetap trotoar, tanpa tukang tambal ban. Tanpa tenda pedagang. Tanpa patung taman. Tanpa nisan yang sedang dijemur.

Dan bagi saya, kota tanpa pejalan kaki adalah hampa.

HUSSEIN

image

Kakek buyut saya dari pihak ayah serta kakek saya dari pihak ibu, dua-duanya menyandang nama yang sama, Hussein. Nama itu oleh sebagian dari keluarga besar saya digunakan sebagai nama keluarga. Tentu tak ada hubungannya dengan Hussein bin Ali bin Abu Thalib, cucu baginda Rasul yang tewas terbunuh dalam peperangan di Karbala, Irak – sebuah peristiwa yang pada hari ini, 10 Muharram 1437 Hijriyah diperingati warga Syiah sedunia sebagai Hari Asyura dengan bersakit-sakit bahkan berdarah-darah, termasuk juga di negeri ini.

Sebagai seorang keturunan Hussein made in Indonesia, saya ndak tertarik untuk ikut bersedih dan bersakit-sakit apalagi berdarah-darah di hari ini. Saya yakin pada perintah baginda Rasul untuk berpuasa 2-3 hari sepanjang 9-11 Muharram dan melewatinya dengan sukacita sebagai tanda syukur untuk banyak hal baik yang berlangsung pada hari ini di masa lalu.

Kau bisa melakukannya dengan caramu sendiri, go on. Saya melakukannya dengan cara saya.

Makassar, 24 Oktober 2015

OBITUARY

(i)
Mereka yang dipanggil kini, seberapa jauh harus berjalan sebelum tiba pada keabadian?
Kita yang tersisa dan menunggu, sia-sia bertanya tentang waktu.
Hidup dan maut saling bersisian, dalam kerahasiaan.

(ii)
Pada akhirnya kitapun harus menyerah.”Kullu nafsin dza iqatul maut”

(Kau kah itu Izrail, yang datang berkunjung tanpa mengetuk, tanpa salam yang terucap? Sesungguhnya kau datang membawa pesan cinta dari Sang Khalik, pemilik bumi dan langit, penguasa atas hidup setiap mahluk. KepadaNya aku berserah diri)

PUISI DIKARA

IMG_9752

Anak laki-lakiku, Dikara Kahlil Satriani, siswa kelas 5 Sekolah Dasar di Makassar, mendapat tugas dari gurunya membuat puisi tentang ibu dan ayah. Dia menuliskannya begini :

Ibu & Ayah

Ibu,
Terima kasih untuk semuanya
Engkau telah menjadi bulan untukku
Tapi walaupun engkau selalu berubah-ubah
Engkau selalu ada

Ayah,
Terima kasih untuk nasehatnya
Kehebatanmu telah menjadikanmu sang kejora
Yang selalu dipuji karena cahayanya

Ayah ibu,
Kalian adalah air dan tanah
Yang merupakan sumber kehidupan
Tapi semua memiliki batas
Aku berharap kalian bisa bersamaku selamanya

******

Saya membacanya berkali-kali, dan terpesona menemukan pemahamannya tentang kesementaraan hidup manusia pada bait ketiga. Dia sadar, kami takkan selamanya berada bersamanya.