CITA-CITA DAN MIMPI

image

Seperti apa perjalanan cita-citamu? Kalau sering melihat polisi, yang gagah dengan seragam dan pistol di pinggang, seorang anak akan serta-merta bercita-cita menjadi polisi. Begitu juga saat melihat dokter, pilot, insinyur, dan profesi-profesi ‘biasa’ lainnya. Cita-cita seorang anak akan berubah seiring berjalannya waktu dan berkembangnya wawasan. Anak pertama saya, laki-laki, saat berusia 5 tahun juga ingin menjadi polisi. Kebetulan karena tetangga saya seorang polisi yang setiap hari melintas di depan rumah dan tersenyum ramah kalau mendapati anak saya sedang bermain di halaman. Menginjak usia 6 tahun, cita-citanya berubah. “Saya ingin menjadi professor peneliti hewan”, begitu katanya kalau ditanyakan tentang cita-cita. Mungkin karena sering menonton Animal Planet dan semua acara televisi tentang hewan. Dia bahkan bisa menjelaskan dengan baik perbedaan keledai dan kuda, juga sedikit memahami proses metamorfosa, dan hafal semua jenis dynosaurus. Cita-cita itu kemudian berubah lagi saat melihat saya mengutak-atik gambar rumah tinggal di laptop. “Saya ingin seperti papa, menjadi arsitek dan membangun gedung-gedung”. Saya khawatir kalau dia ketemu Nazaruddin, atau Anggodo dan Anggoro. Bagaimana kalau dia terkesan pada pribadi mereka? Bah, apa dia akan bilang “papa, saya mau jadi koruptor seperti mereka dan lari ke Singapura”? Naudzubillahimindzalik.

Apakah profesi yang anda geluti saat ini sesuai cita-citamu? Dulu saat di sekolah menengah, saya pernah bercita-cita ‘menjadi seperti Carlos’, saking seringnya membaca berita tentang ‘perjuangan’ Carlos Sanchez Ramirez melawan kapitalisme. Buat saya, Carlos dan ‘rekan-rekan seperjuangan’ adalah orang-orang hebat. Ada Tentara Merah di Jepang, Brigade Merah di Italy, Baader Meinhoff di Jerman. Betapa hebatnya mereka bisa melawan kemapanan. Begitu jalan pikiran seorang anak tanggung. Syukur alhamdulillah cita-cita konyol itu tidak saya teruskan, jadi tidak perlu berurusan dengan Densus 88.

Memasuki tahun terakhir sekolah menengah, buat saya profesi terbaik adalah wartawan : bisa bertemu dan berbicara dengan orang-orang penting, dan tentu saja bisa mengungkap kebenaran dari sebuah peristiwa. Di atas semua itu, wartawan buat saya juga seorang petualang dalam pengertian yang harfiah, bisa pergi ke negeri-negeri yang asing, kadang menantang bahaya. Profesi yang sungguh menarik hati. Cita-cita ini membawa saya masuk ke jurusan komunikasi/publisistik di perguruan tinggi. Setahun lamanya di sana, dan tiba-tiba saja bisa berubah haluan tanpa pertimbangan apapun. Hidup kadang punya rencana sendiri yang berbeda dari cita-cita yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Mungkin ini yang disebut ‘garis tangan’.

Jadi, apakah yang sudah anda capai hari ini merupakan bagian dari cita-citamu? Bisa jadi melenceng jauh dari apa yang sudah dicita-citakan. Tak masalah. Setidaknya anda sudah punya cita-cita dan berupaya untuk meraihnya. Upaya untuk meraih cita-cita itulah yang membedakan seseorang dari lainnya. Sebab semua orang tentu punya cita-cita. Hampir mustahil seseorang tak pernah bercita-cita. Tapi cita-cita tanpa upaya, mungkin lebih tepat disebut mimpi. 

Makassar, 13 Juni 2011 aftermidnightnote